naskah film dokumenter alek perkawinan minang rang pasisia
A
FADE IN
ESTABLISHING SHOT - ABSTRAK ALEK RANG PASISIA (ANAK DARO – MARAPULAI DI DALAM PROSESI ALEK) – MUSIK TRADISI + MODERN YANG SEMARAK –TITLE:
ALEK PERKAWINAN MINANG RANG PASISIA
B
DESKRIPSI LOKASI
FADE IN
ESTABLISHING SHOT – KEELOKAN ALAM
PESISIR SELATAN
NARATOR:
Kita sudah berada di salah satu nagari rang Pasisia yakni Nagari Salido. Nagari sedang rami-rami dalam alek perkawinan Minang Rang Pasisia, yakni upacara adat perkawinan dr. Mella Berti Adriyani putri pasangan H. Adril Dt.Bandaro Kuning (Sekdakab Pesisir Selatan) dan Hj. Sri Asminarti, SPd. Puti Nilam Sari dan dr. Ricky Awal putra dari pasang Amly Khan dan Masdar.
CUT TO:
KE GAMBAR DARI NAGARI SALIDO YANG BARALEK DAN GAMBAR SALIDO DARI UDARA
Salido ini satu di antara 37 nagari terletak di kecamatan IV Jurai Pesisir Selatan (Pasisia), Sumatera Barat. Kabupaten Pesisir Selatan ini 77 km dari Padang ibu Provinsi Sumatera Barat. Alamnya indah, lihatlah dari udara ke utara tampak ranah Salido ke selatan tampak kota Painan. Di Pasisia juga ada kawasan paradiso village di Mandeh Resort yang disebut manca Negara sebagai sorga dari selatan. Negeri ini menyimpan kekayaan budaya dan tradisi yang terus diwarisi dari masa ke masa. Kegigihan, ketekunan, dan komitmen masyarakatnya memelihara budaya dan tradisi, dapat dilihat dari sejumlah ritual adat yang didukung penuh oleh pemerintahan daerahnya.
CUT TO:
KE GAMBAR BARALEK MENYUSUL PANORAMA ALAM PASISIA - PROSES ALEK – MAMINANG
BABAK I
MEMINANG
FADE IN
ESTABLISHING SHOT- SUASANA MANAPIAK BANDUA
NARATOR:
Kita sedang menyaksikan upacara adat proses pertama perkawinan Minang Rang Pasisia disebut Manapiak Bandua istilah lain maanta tunangan atau dalam Islam disebut Meminang. Manapiak Bandua dilakukan sesudah ada kesepakatan adat (mungkin jo patuik) dan tinjau meninjau yang biasanya dilakukan oleh pihak ketiga (setangkai) antara pihak calon mepelai lelaki dan perempuan.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA
NARATOR:
Prosesi (iring-iringan) Manapiak Bandua dimulai dengan kedatangan rombongan dari pihak calon pengantin wanita -anak daro- ke rumah calon pengantin pria (marapulai) di Bukittinggi. Rombongan meminang ini disuruh sarayo niniak mamak anak daro untuk meminang calon penganten lelaki. Unsur anggota rombongan: Mandeh – bapak, Mamak, Sumando – pasumandan (sumandan), Bako. Kedatangan rombongan ini biasanya membawa barang bawaan seperti kue, nasi lamak baluo, pisang dan sebagainya.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA; RUMAH ORANG TUA CALON PENGANTIN PRIA
NARATOR:
Ini suasana di rumah calon mintuo -keluarga calon marapulai- yang akan dipinang (yang banduanya akan ditapiak). Kedatangan pihak anak daro ditunggu tuan rumah (rumah calon mintuo), yang unsur anggota penunggu sama dengan rombongan yang datang (prosesi pihak anak daro). Di rumah ini dua belah pihak tagak samo tinggi/ duduk samo randah untuk beruding mencari kata mufakat mangikek janji (merensmikan pertunanganan), mancari hari nan elok kutiko nan bayiak untuk melangsungkan alek.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA
NARATOR:
Sumando (setelah baiyo dengan mamak) pihak calon anak daro menyampaikan kato kepada sumando pihak calon marapulai, apa sudah boleh menyampaikan tujuan maksud.
Kalau sudah babarih (diberi garisan) oleh mamak kedua belah pihak, baru pihak anak daro menyampaikan maksud hati hendak menjodohkan anak kemenakan perempuan mereka dengan anak kemenakan dari pihak tuan rumah. Kemudian, kedua belah pihak berbincang dalam bentuk pasambahan kato bajawek, gayuang basambuik antara urang sumando kedua belah pihak.
Rundingan putuih, kedua belah pihak disuguhi makan minum tanda naik rumah dapek ayia/ naik batang dapek tindawan. Kemudian kedua belah pihak maurak selo (bubar, menuju rumah masing-masing).
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA
Beberapa hari setelah rundingan putus di rumah calon penganten pria, pihak keluarga marapulai mendatangi keluarga anak daro pula menyatakan menerima maksud hati kedatangan anak daro meminang beberapa hari yang lalu. Pada kesempatan itu dimatangkan rencana acara pernikahan atau manakok hari kabaralek, macari kutiko nan elok medan nan bayiak.
BABAK II
ACARA MINUM KOPI (BAIYO-IYO)
FADE IN
ESTABLISHING SHOT
– RUMAH CALON PENGANTIN WANITA
NARATOR:
Acara baiyo-iyo (bermusyawarah) disebut juga minum kopi. Acara ini forum ninik mamak baiyo-iyo pada alek ini direkam di rumah anak daro. Baiyo-iyo juga di rumah pihak marapulai, atau di salah satu pihak (di rumah anak daro saja) dihadiri pihak anak daro dan marapulai. Intinya bermusyawarah menentukan gadang alek (besarnya pesta) dan siang sigi (checking terakhir) karajo nan kadi kakok (pekerjaan yang akan dilakukan dan pembagian tugas).
CUT TO:
SUBJECTIVE ZOOM:
Unsur pokok hadir dalam minum kopi: mamak nagari, mamak pangka, mamak bako, mamak marapulai serta mandeh-bapak, sumando-sumandan termasuk urang tuo dan urang mudo alek kasadonyo.
NARATOR:
Mamak nagari, mamak pangka, mamak bako, mamak marapulai serta mandeh-bapak, sumando-sumandan termasuk urang tuo dan urang mudo alek kasadonyo baiyo-iyo. Disaksikan mamak membuka paretongan, dimulai dari siang sigi (check qourum) sasudah sumando manatiang meletakan peti dan carano di depan penghulu (kepala) suku menghormati tuah dan kebesarannya. Paretongan menentukan jenis alek: alek ketek (patah paki picik kapareh) atau alek (intang) gadang (alek salingka alam) seperti alek yang sedang disaksikan ini. Juga paretongan tentang tata cara alek (rangkaian upacara adat/ resepsi), mulai dari persiapan-persiapan alek, pembagian petugas dan kerja (karajo bauntuak pegang bamasiang) dalam alek.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA.
NARATOR:
Sasudah kopi dicicipi, diperlihatkan semangat gotong royong ninik mamak dan semua hadirin dalam bentuk menghimpun dana sebagai bantuan untuk membiayai alek yang diselenggarakan silang nan bapangka/ karajo nan bapokok.
BABAK III
MAANTA SIRIAH
FADE IN
ESTABLISHING SHOT - PIHAK KELUARGA MARAPULAI DATANG KE RUMAH ANAK DARO
NARATOR:
Iring-iringan pengantin pria datang ke rumah anak daro, manta sirih (mengantarkan sirih). Siriah disusun di atas dulang disertai bawaan sapatagak (satu stel) pakaian untuk anak daro, serta alat-alat untuk berhias, alat rumah tangga lainnya seperti sprei (alas tempat tidur), alat-alat makan dan kalau keluarga mampu membawa sejumlah emas dan sejenisnya. Juga membawa pagagat (bahan-bahan dapur) seperti lado (cabe), garam, bawang, ikan, ayam, daging, sayur-sayuran dan buah-buahan. Semua bawaan ini merupakan makna pernyataan ikhlas dari keluarga marapulai mambantu anak daro: “putiah kape dapek diliek, putiah hati bakaadaan” (putih kapas dapat dilihat, bersih hati sesuai dengan keadaan). Maanta sirih, simbol kebersamaan orang Minang.
CUT TO:
KE GAMBAR MALAM BAINAI
DILATARI LAGU
NARATOR:
Malam sesudah manta siriah malamnya di rumah anak daro dilangsungkan acara malam bainai. Prosesinya dimulai dengan mendudukkan anak daro di pelaminan. Inai disediakan keluarga anak daro diantakan bako. Inai disajikan di baki ditempatkan di depan anak daro yang diapit orang tua dan boko. Inai bawaan dari bako dan inai bawaan kerabat datang silih berganti. Inai dipasang pada kuku 10 jari tangan anak daro oleh kedua orang tua, bako dan kerabat. Bersamaan dengan inai dipasang, berkumandang syair tradisi Minang pada malam bainai diwarnai dengan pekikan seruling.
FLASH BACK (DISSOLVE TO):
KENANGAN ORANG TUA MENGASUH –MEMBESARKAN ANAK DARO. DULU BAYI, KINI TELAH BAINAI.
BABAK IV
BABAKO DAN MAMBAKOI
FADE IN
ESTABLISHING SHOT – RUMAH ANAK DARO – RUMAH BAKO DAN RUMAH YANG MAMBAKOI
NARATOR:
Babako dilaksanakan oleh keluarga ayah dari calon anak daro dan marapulai. Nampak alek babako anak daro suasana keakraban, kasih sayang dan mendapat restu dari pihak bako, yaitu keluarga ayah pihak penganten (anak pisang dari bako). Babako dalam filosofi adat Minang, ayah berhutang pada anak bako membayarkan kepada anak pisangnya.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA; SUASANA RUMAH BAKO
NARATOR:
Setelah zuhur, anak daro telah berada di rumah bakonya bersama rombongan keluarga. Induak Bako (keluarga ayah) dan rombongannya yang maarak anak pisangnya (anak daro atau marapulai) ke rumah keluarga anak daro atau marapulai, sebelumnya berkumpul pada salah satu rumah keluarga dekat ayah untuk didandani dengan pakaian pengantin.
CUT TO:
KE GAMBAR MAARAK ANAK DARO
NARATOR:
Anak daro diarak rombongan bako, disemaraki dengan talempong dan gendang sarunai dan barang bawaan bako ke rumah anak daro atau marapulai. Barang bawaan tersebut berupa dulang berisi kado bako atau paragiah bako seperti kain panjang, sarung, beras, ada pula emas, ternak sapi, kerbau, kambing atau nasi kunyit, limau harum sesuai kemampuan bako.
CUT TO:
KE GAMBAR BERIKUTNYA; RUMAH ANAK DARO
NARATOR:
Di kediamannya, anak pisang (anak daro) diasapi dengan kemenyan dan dilimaui dengan limau harum yang dibawa bako tadi. Asap kemenyan dan limau harum adalah simbol kasih sayang bako, membersihkan diri lahir batin si anak daro, motivasi (dorongan) agar mental kuat sebelum melangsungkan pernikahan, sekaligus do’a selamat untuk pengantin.
CUT TO:
KE GAMBAR MEMBAKOI
Iring-iringan mambakoi dari Painan sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.
Iring-iringan mambakoi dari Tarusan sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.
Iring-iringan mambakoi dari Bayang sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.
Iring-iringan mambakoi dari Lumpo sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.
Iring-iringan mambakoi dari Bungo Pasang sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.
BABAK V
MAMANGGIA MARAPULAI
FADE IN
ESTABLISHING SHOT – RUMAH ANAK DARO
NARATOR:
Mamanggia marapulai. Ada juga manjapuik marapulai. Mamanggia marapulai dilakukan di waktu malam sesudah manta siriah, untuk memasuki upacara pernikahan sesudah subuh. Manjapuik marapulai dilakukan untuk basandiang di palaminan sesudah akad nikah. Tayangan susasana upacara melepas rombongan mamanggia di rumah anak daro, yang tasuruh tasarayo ninik mamak anak daro.
CUT TO:
KE SUASANA MAMANGGIA DI RUMAH MARAPULAI
DAN IRING-IRINGAN BADAMPIANG
NARATOR:
Di malam menjelang pernikahan, marapulai dipanggia oleh pihak keluarga anak daro dan dibawa ke rumahnya. Rombongan penjemput beranggotakan urang sumando - sumandan, mandeh bapak, mamak, urang mudo, 10 - 15 orang. Rombongan penjemput membawa syarat-syarat yang disepakati hasil rundingan sebelumnya. Sebelum marapulai dibawa, ada dilakukan perundingan yang kadang a lot (panas) sampai subuh antara kedua belah pihak (yang menjemput dan yang dijemput). Setelah rundingan putus, sembahyang subuh, marapulai berpakaian jas lengkap memakai peci. Marapulai turun rumah orang tuanya dibawa oleh rombongan anak daro. Iring-iringan (prosesi) menuju rumah anak daro berdamping (berdendang, mendendangkan nasib lelaki minang, kecil diasuh orang tua, besar ke rumah isteri).
CUT TO:
KE GAMBAR BADAMPIANG
NARATOR:
Dampiang mengisi sepi sesudah subuh diikuti sorak sorai anggota pengiring dan inang pengasuh marapaulai. Yang badampiang adalah semua anggota prosesi yang pandai berdampiang bersahut-sahutan. Badampiang adakalanya tanpa musik dan adakalanya diiringi dengan bunyi-bunyian pupuik, talempong yang diselingi dengan pantun-pantun yang menyatakan betapa sedih bercampur gembira keluarga calon penganten pria melepas anaknya masuk kekeluarga anak daro. Dampiang diisi dengan pantun-pantun jenaka pedampiang, biasanya para anak muda. Tujuan dampiang menggoda marapulai yang keluarganya sedih melepas anaknya marapulai memasuki hidup baru. Pantun dampiang didendang dengan cara bersahut-sahutan dan diujung pantun disorak-soraikan anggota rombongan yang lain.
CUT TO:
KE SUASANA RUMAH ANAK DARO YANG MERNUNGGU ROMBONGAN DAMPIANG
NARATOR:
Rombongan dampiang mengiringi marapulai sampai di halaman rumah disambut dengan siriah (disapo dengan sirih). Ada pidato siriah pinang. Kemudian diikuti pidato keluarga yang mengantar marapulai minta izin naik rumah gadang untuk menikah. Izin diberi ninik mama anak daro menaiki rumah gadang. Marapulai dipersilahkan naik sebelumnya membasuah kaki pada adat lama.
Marapulai duduk sesuai dengan tempat yang sudah disediakan disertai orang tua dan pengantarnya (inang pengasuhnya). Anak daro dan orang tua serta inang pengasuhnya duduk di tempat terpisah, tidak boleh dipersandingkan sebelum menikah. Upacara pernikahan dimulai kombinasi alek tradisi dan modern. Ninik mamak dan bako marapulai dan anak daro berunding. Rundingan putus acara diserahkan kepada pembawa acara upacara pernikahan, dimulai dari membaca ayat al-Qur’an, ayah sebagai wali minta izin anak gadisnya untuk dinikahkan, dalam suasana haru izin diberikan anak gadisnya, selanjutnya upcara sakral ijab dan qabul diserahkan kepada PPN (Petugas Pencatat Nikah). PPN duduk bersanding dengan marapulai, ayah anak daro/ wali dudu badampingan dengan anak gadisnya yang akan dinikahkan, ujung dan pangkal duduk dua saksi yang adil. Suasana haru mewarnai ijab dan kabul.
BABAK VI
ACARA AQAD NIKAH; IJAB QABUL
FADE IN
ESTABLISHING SHOT – KEDUA PENGANTIN, WALI NIKAH, PPN, SAKSI NIKAH – LAFADZ IJAB QABUL - DO’A - UCAPAN SELAMAT
NARATOR:
Prosesi aqad nikah dilangsungkan sebagaimana biasa, sesuai syariat Islam. Ini merupakan pengejawantahan dari ABS-SBK (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah) dan SMAM (Syara’ Mangato, Adat Mamakai).
CUT TO:
KE SUASANA BASANDIANG DI PALAMINAN
NARATOR:
Ini saat basandiang di Palaminan. Marapulai dijapuik pihak anak daro. sesudah melakukan akad nikah untuk basandiang di rumah anak daro. Anak daro dan marapulai menanti tamu alek salingka alam diwarnai musik di halaman rumah.
CUT TO:
KE SUASANA MAURAK SANGGUA GADANG
NARATOR:
Di rumahnya, anak daro dalam pakaian penganten duduk di ranjang. Marapulai dan keluarga datang dijemput dengan carano. Mamak, urang sumando-sumandan, mandeh bapak, bako, dan para undangan (alek) duduk sehamparan. Paretongan atau musyawarah dimulai alek kepada si pangka urang sumando dari sumando ke mamak, bako dan sipangka.
CUT TO:
KE GAMBAR ANAK DARO
NARATOR:
Maurak sanggua gadang atau mambuka sunting. Bunga penganten anak daro di sanggua gadang dibuka, tanda upacara membuka/ maurak sanggua gadang dimulai. Adok dan dendang silaju bersahutan. Anak daro diminta memakan nasi si sampek, manusuak singgang ayam. Manusuk singgan ayam oleh penganten merupakan peramalan nasib penganten ala alek perkawinan Minang Rang Pasisia. Suasana diperkuat penari kain. Hingga pada tengah malam, salah seorang penari kain merenggut tali tirai dan putus, tanda upacara selesai.
OFF SCENE (O.S)
PIDATO PENUTUP ALEK
CUT TO:
KE GAMBAR RESEPSI DI GEDUNG WANITA PADANG
NARATOR:
Kedatangan tamu disambut keindahan eksterior gedung penuh karangan bunga. Interior semarak dengan dekorasi yang beragam. Hadir Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi Dt. Rajo nan Sati, memberi sambutan atas nama alek (tamu) disambut Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit. Darizal Basir Dt. Rajo nan Sati (mantan Bupati Pesisir Selatan) datang tidak sebagai tamu memberi sambutan atas nama keluarga. Prosesi penganten (anak daro marapulai) di sambut tari pasambambahan dan pidato siriah pinang.
CUT TO:
KE GAMBAR PEMBUKAAN RESEPSI
Terlihat protokol dari satampang baniah membuka acara. Pembacaan ayat al-Qur’an. Sepatah kata sipangka disampaikan Bapak Darizal Basir Dt. Rajo nan Sati. Sambutan alek oleh Bapak gamawan Fauzi Dt. Rajo nan Sati. Pembacaan do’a. Penampilan kesenian. Diteruskan dengan makan bersama, pemberian ucapan selamat pada anak daro dan marapulai beserta keluarga. Kebahagiaan ini diabadikan dengan berfoto bersama.
BABAK VII
MANJALANG MINTUO
FADE IN
ESTABLISHING SHOT - RUMAH ANAK DARO – LABAUH NAN PANJANG - RUMAH MARAPULAI
NARATOR:
Acara manjalang mintuo dilakukan keesokan hari setelah aqad nikah. Manjalang mintuo adalah ajang perkenalan selanjutnya antara anak daro dengan pihak keluarga marapulai. Juga momentum pemberitahuan kepada orang sekampung bahwa pasangan ini sudah resmi menjadi suami isteri.
CUT TO:
KE GAMBAR MARAPULAI DAN ANAK DARO DIARAK DENGAN IRINGAN TALEMPONG DAN PUPUIK SARUNAI. ROMBONGAN MELALUI LABUAH NAN PANJANG MENUJU RUMAH KELUARGA MARAPULAI.
NARATOR:
Rombongan manjalang mintuo membawa barang bawaan berupa kue-kue, jamba dengan isi bermacam sambal seperti rendang daging, ikan, ayam, telur, sayur-sayuran, buah-buahan, juga nasi kunyit dan ayam panggang.
CUT TO:
KE SUASANA RUMAH MINTUO (KELUARGA MARAPULAI)
NARATOR:
Inti acara manjalang mintuo adalah do’a selamatan dan berkenalan dengan seluruh keluarga besar marapulai.
OFF SCENE (O.S)
PIDATO ADAT MANJALANG MINTUO, SEBELUM ANAK DARO PULANG.
BABAK VIII
JAPUIK TIGO HARI
FADE IN
ESTABLISHING SHOT – RUMAH MARAPULAI
NARATOR:
Tiga hari setelah akad nikah, dilakukan acara manjapuik anak daro. Acara japuik tigo hari anak daro itu dilakukan oleh pihak marapulai untuk bermalam di rumah keluarga marapulai (mintuo anak daro). Tujuannya, berkenalan lebih lanjut dengan keluarga, mengenal lebih dekat serta menjalin silaturahim. Karena yang kawin itu sebenarnya adalah jalinan keluarga besar dua belah pihak.
CUT TO:
KE GAMBAR MANJALANG MAMAK – BAKO DARI MANDEH-BAPAK – SUMANDO-SUMANDAN
NARATOR:
Rangkaian acara susulan di antaranya dilakukan manjalang mamak, bako, dari mandeh bapak (sumando-sumandan) pihak anak daro dan marapulai. Tujuannya untuk saling mengenal lebih dekat dan akrab kedua keluarga besar yang baru saja bersatu melalui pernikahan anggota keluarga.
CUT TO:
KE GAMBAR BERBULAN MADU KE BALI
NARATOR:
Penganten menikmati panorama bali dan memadu kasih di hari-hari pertama pasca pernikahan.
FLASH BACK (DISSOLVE TO):
KENANGAN PENGANTEN MASA SEKOLAH DAN KULIAH, PERTUNANGANAN DAN PERNIKAH – KINI KEDUANYA PEMILIK DUNIA KEBAHAGIAAN.
FADE OUT

Aku belajar yah..
thx
Comment by Dee — June 14, 2008 @ 4:17 am
Comment by Feri Derma Satria Alias Pajok — November 24, 2008 @ 8:47 pm
amb numpang baraja lo ciek kanti…
Comment by Pagarah — April 23, 2009 @ 12:28 pm