ZIARAH TABUNG-TABUNG PUISI
(S e b u a h N a s k a h D r a m a K o l o s a l)
FADE IN:
001
RUANG VERTIKAL PANGGUNG (SISI PALING DEPAN) DITUTUPI PLASTIK WARNA BIRU. DASAR PANGGUNG JUGA TERTUTUPI OLEH KAIN (PARASUT). SEHINGGA, SELURUH PEMANDANGAN DI ATAS PANGGUNG TAMPAK SEPERTI DASAR DANAU.
002
BEBERAPA PENYELAM MELINTAS. BERAKTIVITAS LAYAKNYA PARA TURIS BAHARI YANG GEMAR MEMERIKSA KEINDAHAN ATAU MENELITI ANEKA TANAMAN DI DASAR DANAU. SEORANG PENYELAM BERGELANTUNGAN PADA CECABANG POHON. GELEMBUNG AIR YANG MERANGKAK KE PERMUKAAN, MENIMBULKAN SUARA-SUARA YANG KHAS. CAHAYA DAN MUSIK MENGGIGIL. TERDENGAR PUISI, DIBACAKAN AMNAK-ANAK SECARA MARATON:
PUISI : Dada di cuaca penghabisan. Bulan penat tak terurus. Aku dengar riuh tepuk tangan. Ibu dibalut gigil. Terguling di beranda gosong. Mengurut kekalahan. Jangkirnya digusur tungkai-tungkai sore. Tanpa alasan. Berselisih. Melindang keliar jejak orang-orang pindah. Merangkul rumah ke tepi luka hari. Bersilih salam pamit.
Langit tak bermusim. Menyuling mata hujan jadi riam. Sesendu lambai anak-anak batang kampar. Menghilirkan remah gergaji ke muara lengang. Sementara ini kampung hanya sarang semut, menara tanah yang segera rubuh.
SEORANG IBU MELINTAS. DI BAHUNYA YANG TERIKAT RANTAI TERGANTUNG ANEKA PERKAKAS RUMAH
IBU : Apa yang kita dapat dari perpisahan? S$elain kesendirian, cuma gelimang lumpur rindu. Lad$ang-ladang lumat diparut beling tahta. Juga, barangkali, deret catatan harian rumah tanpa halaman. Hiruk-pikuk tak berkesudahan menggelinjang pada partitur tanah yang lantak. Rengek-ratap ganti rugi bagai lengking sirene di gerbang pekan hilang sejarah. Hingga aku lupa usia beringsut ke pinggir nisan. Tidak mengerti, Justru kota yang menyubur bagai gagang pare di persemaian. Coba kaparkan badan. Picingkan mata. Bukan hanya aku, para penakluk hutan melayu juga berkubur di sini. Di sisi batang mangilang, Alamat doa bila kelak kau berziarah
SUARA IBU MENGIANG DAN BERSIPONGANG. DISAMBUNG PUISI ANAK-ANAK YANG DIBACA SECARA MARATON.
PUISI : Bagai gandarokam kami tumbuh. Berseteru dengan duri semambu. Mencincang angka-angka yang jumpalitan, berebut selara pada tanah yang sekarat. Waktu malah memisau. Meruncing sembilu bakau tanjung pauh. Terus. Kami bertumbangan. Tanpa hikayat mengarung gerenek Batang Samo. Segala gagau terbenam, Ibu. Rumah, taman bunga, dan halaman mesjid perempatan aspal melepuh di kedalaman angkuh. Kami temukan sisa kanak-kanak kami. Pongang sorak petak umpet. Anak lanang menari Melagukan barzanji; berlari menakali capung dengan lidi. Atau mandi-mandi bersama dedaun yang diluruhkan angin khatulistiwa. Lalu lapuk di ceruk keranda yang berlesatan ke seberang jelujur menara tanah.
DARI KEJAUHAN, BAYANGAN SEORANG IBU MEMBIAS
IBU : sejenak pun, tinjaulah jendela itu. Ada hamparan luas menunggu lentera penyuluh sobekan rahasia yang menyala di nadimu. Menjelang padam, carilah Hang Tuah, Nak!
PUISI : Ke sebuah padang, kami berburu. Melanglang harapan. Tak ada kata pulang sebelum busur menggeleparkan buruan. Tapi bagaimana mencecah onak sunyi, merunut belukar risau? selalu ranah koto panjang ngangkang di udara. Layar tak berhingga memajang bukit berbaris. Sungai-sungai kecil berjabat di perut rawa. Seketika, cericit burung pemakan buah kayu meningkahi dingin pagi. Padahal, hanya riwayat pahang tiang-tiang listrik yang kuyup dipeluk karat, Gamang menunjuk langit. Rumah sekolah membangkai. Getah para menjelma rawa. Bagai bubur berbidang sawah gugur. Sawit mati muda, membusuk di rusuk kota yang membentang jeram peradaban. Licin waktu tak terjinakkan. Kami gembalakan hati. Tapi ciut jua serupa pori-pori lengan peneruka. mengeras di hulu cangkul. Bertahun menampar sekawanan humus. Pada gulungan tali kerbau, di serajut rumput, dan onggokan tinja kambing, nasib mereka memilin tak terkemasi. Jika sore merah inai meretas langit, burung-burung pemakan buah pulang ke sarang, mereka terseok di pelipis jalan. Menggendong sibiran kayu. Menanti api. Lalu siapa saja boleh jadi tungku. Jadi garam atau kuali di mana perjalanan dididihkan. Ndeh oi, berapa kilometer lagi harus kutempuh nyeri, Hingga ziarah ini sampai ke puncak, Ibu. Lidahku meretak pahit menuang doa ke banjaran nisan nan luput dari hitungan. Tak ada lagi rumah bersendi batu. hanya menara tanah yang telah lama luluh. Melunau di hamparan melayu.
SENYAP.
003
PARA PENYELAM LALU LALANG. TERDENGAR NARASI-NARASI TAK BERATURAN YANG MENYAURAKAN PIKIRAN PARA PENYELAM. VISUALISASI DI PANGGUNG TERKONDISI DENGAN SENDIRINYA, SESUAI EMOSI SUARA-SUARA.
PENYELAM I : Sesiapa telah mengasah waktu di sini. Begitu kilat. Tahun 1974 kami lahir. Ketika rencana penghilangan itu dirancang kami genap 5 tahun. September menggigil. Di Tanjuang Pauah akan dibangun dam skala kecil dalam rangka memanfaatkan potensi Batang Maek anak Sungai Kampar Kanan. Janji-janji bertaburan, seperti bunga perkabungan. Wanginya meluluhkan sendi. Orang-orang tersentak, merangkul sedih ke dada masing-masing.
004
PLASTIK YANG JUGA BERFUNGSI SEBAGAI LAYAR TERBUKA. HAMPARAN PARASUT JUGA TERKUAK. DIIRINGI MUSIK, SUASANA PANGGUNG BERALIH KE SEBUAH RUANG MAKAN DENGAN MEJA SEDERHANA. ADA IBU, BAPAK DAN SEORANG ANAK.
BAPAK : Pertemuan Kampar Kanan dengan Batang Maek menjadi pusat pembicaraan para pemburu proyek. Tiba-tiba saja, tanah dan air di sini sangat menggiurkan. Kata mereka, Kampar Kanan bisa menghasilkan 233 MW; Kampar Kiri, 178 MW; Rokan Kanan, 56 MW; Rokan Kiri 132 MW; dan Kuantan, 350 MW. Wah!
IBU : Untuk apa, Pak?
BAPAK : Untuk membuat pembangikit listrik, Bu. mereka menyebutkan bahwa jika proyek itu berhasil, jutaan warga yang masih kekurangan listrik akan sangat terbantu. Kita diminta mendukung misi ini.
IBU : Ibu kurang paham pembicaraan Bapak?
BAPAK : Bu, para pemburu proyek itu membawa dua usulan. Pertama, membangun bendungan sebanyak 2 buah yang berlokasi di Tanjuang Pauah dan Koto Panjang. Kedua, bendungan tunggal berskala besar di lokasi Koto Panjang. Kalau bapak lebih setuju bendungan yang besar. Lebih besar lebih baik?
IBU : Kau tertarik, Bapak?
005
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU DENGAN SEORANG PENYELAM TERPAKU DI CABANG BATANG KAYU.
PENYELAM II : Kami lupa, berapa usia kami ketika rencana demi rencana terus berjatuhan. Pemburu proyek luar dan dalam negeri bahu membahu membentuk tim untuk kelangsungan rencana. Pilihan jatuh pada Bendungan tunggal di Koto Panjang yang berkapasitas 114 MW. Rancangan dimulai. Tinggi bendungan 58 meter. Yang akan tenggelam 2.6444 rumah; 8.989 hektar kebun-sawah; jalan negara 25,3 km dan jalan propinsi 27,2 km.
PENYELAM I: Bendungan alternatif yang semula dibangun bertahap: bendungan I lokasi Tanjuang Pauah, kapasitas 23 MW, tinggi bendungan 38 meter dan bendungan II lokasi di Koto Panjang, kapasitas 41 MW, tinggi bendungan 30,5 meter tidak jadi dibangun. Dari studi kelayakan, kedua bendungan ini tidak menjanjikan, tidak besar, hanya akan menenggelamkan rumah sebanyak 390 buah, 1.860 hektar sawah dan kebun dan jalan negara sepanjang 16 meter.
PENYELAM II: Kapasitas listrik yang dihasilkan bendungan tunggal berskala besar dapat dibangun dengan biaya lebih murah. Ini jelas menarik dibanding dengan dua bendungan bertahap.
006
DARI BAWAH PARASUT ORANG-ORANG MENGEKSPLORASI GERAK SEDEMIKIAN RUPA. BERBAGAI NARASI BERHIMPITAN. PADA LATAR PANGGUNG MELINTAS-LINTAS ANEKA GAMBAR. ADA EKSODUS. DEMONSTRASI. TAWURAN ANTARWARGA. SEORANG PEMIMPIN SEDANG BERPIDATO. FADE OUT. MUNCUL SUARA
PENYELAM III : Kakek-kakek, paman-paman, dan bapak-bapak kami yang terpandang mulai bergairah menggalang massa dengan jargon kebulatan tekad.
PENYELAM I: Di beberapa sekolah dikampanyekan pelaksanaan proyek yang dilakukan atas nama Masyarakat XIII Koto Kampar yang siap berkorban untuk mewujudkan pembangunan Dam Koto Panjang.
PENYELAM II: Orang-orang proyek siap memberi bantuan sebesar 1,152 Miliar Yen untuk Engineering Service.
PENYELAM III: Kami terdesak, makin lupa pada usia sendiri.
PENYELAM I: Orang-orang terus sibuk menggalang kesepakatan.
PENYELAM II: Proyek besar di ambang saku-saku.
PENYELAM III: Langkah cepat diambil. Seluruh harta kekayaan penduduk yang bakal tenggelam didaftar. Pohon, rumah, pekarangan, sawah semua dicatat.
PENYELAM II: Penduduk dilarang membangun atau membuka lahan pertanian baru. Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti, puskesmas, pasar atau juga sekolah bahkan jalan sepanjang 35 kilometer di daerah ini tidak lagi diperhatikan.
PENYELAM III: Semangat mereka menyala-nyala. Kebulatan tekad digelar di mana-mana. Di desa Pulau Godang, kebulatan tekad dibacakan orang-orang besar kami. Acara diawali dengan penyerahan sebilah keris dan miniatur perahu.
PENYELAM I: Kampung kami diserahterimakan dengan syarat pemindahan harus meliputi seluruh masyarakat yang ada di suatu desa dan di tempatkan di sekitar pinggiran danau. Kemudian, penempatan kembali harus secara kolektif mutlak dilakukan agar masyarakat dapat mempertahankan adat dan tradisi mereka. Pemberian SK pembebasan tanah di Pangkalan Koto Baru, Tanjuang Pauah, Tanjuang Bolik telah dilangsungkan. Tak hiraukan desakan untuk menghentikan proyek Koto Panjang dari mereka yang peduli.
PENYELAM II: Exchance Note (EN) tetap ditanda tangani atas proyek bernama “Koto Panjang Hydroelectric Power and Asosiated Transmision Line Project” dengan dana awal 12,5 Milyar Yen.
007
LAYAR PLASTIK DAN HAMPARAN PARASUT KEMBALI TERBUKA. SUASANA PANGGUNG BERALIH KE SEBUAH HALAMAN. IBU DAN SEORANG ANAK MENGGIGIL. SUARA-SUARA BERDESAKAN.
ANAK : Ganti rugi tidak bermasalah.
IBU : Kita diambang kecerahan. Industri hilir bisa lebih maju.
ANAK : Sawit dan karet kita hancur, Mak!
IBU : Jadi, bagaimanapun pembangunan harus diteruskan.
DISELINGI PENYELAM III
PENYELAM III : Gajah-gajah yang bermukim di sini juga harus pindah!
ANAK : Kita berkubur di sini saja.
IBU : Tidak, kamu harus terus sekolah.
ANAK: : Di mana?
IBU : Bumi tak seluas pandang, Nak. ditutup selebar kuku, dibuka seluas alam. Jangan picingkan matamu, Nak!
ANAK : Ibu, jangan sakit, Ibu!
DISELINGI PENYELAM I
PENYELAM I: Tingkat kehidupan KK yang kena dampak proyek tingkat kehidupannya harus sama atau lebih baik dari kehidupannya di tempat lama. Ayah, kau juga tergiur? Kau biarkan kami terhuyung-huyung begini? Persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus dilakukan dengan adil dan merata!
IBU : Jangan picingkan matamu, Nak.
ANAK : Ibu! Kenapa tanganmu dingin?
IBU : Selamat hidup, Nak.
008
LATAR PANGGUNG MENAMPILKAN PEMBACA BERITA
BERITA: Persetujuan pemindahan dan ganti rugi diintimidasi. Lima orang utusan yang mewakili 4.885 KK warga Koto Kampar melakukan aksi ke Jakarta menyampaikan tuntutan mereka tentang rendahnya harga ganti rugi. Tuntutan itu disampaikan dengan mendatangi DPR RI. 2 Sepetember 1991, Kedubes Jepang, 3 Sepetember 1991 ke kantor OECF Jakarta 4 September 1991 Aksi ke Depdagri Kamis, 5 September 1991. Action Plan diserahkan. Penampungan dirancang di Koto Ronah dan Muara Takus. Rencana pelaksanaan dikonfirmasi. Dana tahap II sebesar 17,525 Miliar Yen diturunkan. Syarat-syarat pemindahan yang ditetapkan telah dipenuhi. Kontrak perjanjian secara resmi dibuat. Masyarakat Pulau Godang mulai dipindahkan ke lokasi pemukiman baru di Silam Koto Ronah di bawah ayoman Bataliyon-Bataliyon yang santun dan bijak.
009
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU. PARA PENYELAM BERKELIARAN SEDEMIKIAN RUPA.
PENYELAM II: Januari yang lain. Kami terjaga. Usia kami 19 tahun, ternyata. Tapi, Ibu, kami sudah tidak di sana lagi. Kabarnya, setelah kami pergi ke rantau-rantau pelarian, pembangunan mulai dilaksanakan. Perusahaan lokal tentu dapat bagian. 401 KK di Tanjuang Bolik dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data menyusul 312 KK atau 1.152 jiwa dari Tanjuang Pauah. Sementara warga yang mencintai tanahnya masih terus merengek menyampaikan tuntutan ganti rugi yang belum dibayar.
010
KEMBALI KE PEMBACA BERITA. BARANGKALI DI SEBUAH RUANG KELUARGA. BEBERAPA ANGGOTA KELUARGA SEDANG MENONTON SIARAN TV, SAMBIL MENIKMATI PENGANAN.
BERITA: 244 KK dari Muaro Takuih dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) I di Selatan Muaro Takuih. 447 KK dari Muaro Maek dipindahkan Satuan Pemukiman (SP) Blok X/G di daerah Sibuak. 599 KK dari Koto Tuo dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II Selatan Muaro Takuih. 38 KK atau 387 jiwa dari Tanjuang Pauah kembali dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data. Menyusul pula 49 KK Tanjuang Bolik yang dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data. Masyarakat Tanjuang Alai sebanyak 313 KK atau sebanyak 1600 jiwa dipindahkan ke Unit Pemukiman Penduduk (UPP) Ranah Koto Talago. Masyarakat Lubuak Aguang sebanyak 220 KK atau 1082 jiwa dipindahkan ke Unit Pemukiman Penduduk (UPP) Ranah Sungkai Koto Tangah.
KEMBALI KE PENYELAM:
PENYELAM I: Itulah yang kami dengar. Hiruk-pikuk yang tak berkesudahan. Terus berhimpitan. Di telinga kami terdengar kusut. Di telinga lain mungkin berubah jadi lantunan dari not-not balok di lembaran partitur yang mahal.
PENYELAM III: Yang ingin merengek, merengeklah. Meratap, merataplah. Bernyanyi, bernyanyilah. Semua mesti dilangsungkan atas nama kemajuan, kemakmuraan orang banyak.
PENYELAM II: Silakan mengadukan kasus ganti rugi ke Komnas Ham. Anda berhak didampingi pengacara. Katakan: bendungan selesai dibangun dan penggenangan percobaan dilakukan, tapi kami kehilangan tanah air kami yang sebenarnya.
KE PEMBACA BERITA
BERITA: Penggenangan secara resmi, penekanan tombol penurunan pintu-pintu sekat air dam digelar.
KE PENYELAM
PENYELAM I: Sirene di hati kami tak kalah lengkingnya. Kami tak ingin diberi kampung instan, tanpa sejarah, tanpa kenangan.
SEMAKIN HIRUK DENGAN SUARA PARA DEMOSTRAN
PENYELAM III: Bapak-bapak BPN, kami bukan tak suka dimukimkan di Rimbo Data, bukan tak mengakui legalitas sertifikat atas lahan kebun karet yang Bapak keluarkan.
PENYELAM I: Kami hanya tidak ingin terkapar di ketidakmengertian.
PENYELAM II: Kami tak ingin terjerat di kesemrautan. Katakan pula: penolakan kami bukan tanpa alasan. Lihatlah, Pangkalan banjir besar. Padahal berada di luar areal proyek.
PENYELAM III: Anak sungai yang selama ini mereka banggakan, seperti Batang Mangilang, Batang Samo dan Batang Maek tak ramah lagi. Ngamuk.
011
VISUALISASI YANG MENGEKSPLORASI PARASUT MENAMPILKAN ORANG-ORANG DI RUANG SEMINAR, SALING BERBINCANG
ORANG I : Biasanya, meskipun hujan turun berhari-hari, tidak pernah terjadi banjir besar. Karena, wilayah ini memiliki siklus banjir alami yakni satu kali dalam 25 tahun. Tapi sekarang, banjir besar susul menyusul. Sampai-sampai menyebabkan terputusnya transportasi Sumbar–Riau.
ORANG II : Ketinggian muka air disaat banjir tidak wajar lagi. Capaian ketinggian air sudah sampai ke loteng rumah penduduk bahkan Mapolsek dan Puskesmas Pangkalan ikut ditenggelamkan.
DISELINGI KE PENYELAM
PENYELAM II: Mengapa hanya mendiskusikannya di ruang-ruang seminar lalu sama-sama sepakat mengatakan bahwa penyebab banjir besar tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adanya dam Koto Panjang?
KE RUANG SEMINAR
ORANG III : Sebelum adanya PLTA Koto Panjang, air sungai di wilayah ini mengalir sampai jauh sampai ke Muaro Maek. Sekarang, sampai di Tanjuang Bolik aliran air sungai menjadi tersendat, sehingga air sungai Batang Mangilang, Batang Samo dan Batang Maek menjadi naik.
ORANG I : Di samping itu, terlihat bahwa, ketika hari hujan, air sungai cepat naik, turunnya sangat lambat. Bagi penduduk Pangkalan yang berjumlah 22.000 jiwa, banjir yang berkali-kali melanda daerah mereka menstimulasi penyakit orang modern: stress dan traumatik. Tidak hanya itu, kenaikan elevasi air mencapai 82 meter juga berpengaruh terhadap pemukiman baru rakyat Koto Tuo.
KE PENYELAM
PENYELAM I: Oleh sebab itukah kita meramaikan ruang seminar? Bukankah pemerintah kita juga menyediakan pengadilan? (Saudaraku, pertanyaan-pertanyaan ini pun tertimbun waktu).
KE PEMBACA BERITA
BERITA: 20 Mei 2000. Masyarakat Tanjuang Pauah sebanyak 67 KK dari 180 KK yang ganti ruginya belum tuntas, mengajukan gugatan ke PN Tanjung Pati dengan kuasa hukum KBH-YPBHI Bukittinggi. Perkara ini terdaftar dengan Nomor:03/Pdt.G/2000/PN.TJP,
012
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU DENGAN BEBERAPA PENYELAM TERPAKU DI CECABANG BATANG KAYU. SEMENTARA PARA TURIS BAHARI DAN PENZIARAH YANG LAIN SESEKALI MELINTAS DAN BERPENCAR MENUJU TUJUAN MASING-MASING. MASING-MASING MEMAKAI PAKAIAN SELAM LENGKAP.
PENYELAM II: Daun-daun luluh, waktu mencair.
PENYELAM III: itu adalah daun dari sebatang manggis yang dulu tumbuh subur di tikungan menjelang Masjid.
PENYELAM I: Tetua kita menyebutnya Manggis Sumatra yang konon kualitasnya sangat dikagumi tentara Belanda kala musim perang dulu.
013
VISUALISASI DI PANGGUNG SEMAKIN RIUH DAN MENYIMBOLKAN BEBERAPA PERSOALAN SEPUTAR PERSOALAN PEMBANGUNAN KOTA; AMBISI-AMSBISI; TIPU MUSLIHAT; KEBAHAGIAAN DI SATU PIHAK, KEPEDIHAN DI PIHAK LAIN, DAN SETERUSNYA.
PENYELAM III: Kau lihatkah? Dua kelok menjelang batang manggis Sumatera itu membangkai gedung Sekolah Dasar tempat dulu bocah-bocah bercita-cita tinggi menggilai pensil dan buku-buku. Bocah-bocah itu kita.
PENYELAM II: Ya. Kini tak beratap lagi. Lihatlah pula, sekitar 500 meter lagi setelah Masjid ada sebatang kelapa menjulang tinggi di pekarangan rumah beratap daun rumbia. Kita akan ke sana bukan? Di sisi batang kelapa itu, ibu kita berkubur.
PENYELAM I: Sudah tak terhitung waktu yang melesat sampai kita didamparkan di ruang berlumut ini.
PENYELAM III: Lumut kenangan.
PENYELAM II: Lumut sunyi.
PENYELAM I: Lumut yang menyakitkan.
014
PARA PENYELAM MENANGGALKAN MASKER AIR DI MULUT MEREKA KARENA AKU TIDAK LELUASA MENGATUR NAFAS MELALUI SLANG YANG DISAMBUNGKAN KE TABUNG OKSIGEN DI PUNGGUNG MEREKA. MEREKA SEPERTI ANAK SIAMANG YANG BELAJAR BERAYUN. KAKU. SEMENTARA GELEMBUNG-GELEMBUNG AIR BEGITU MENGGANGGU PANDANGAN. MEREKA MELINGKAR DAN SESEORANG TAMPIL SEBAGAI KOMANDO LINGKARAN
PENYELAM II: Ibu, Segalanya terbenam. Rumah kita, begitu juga taman bunga di halamannya, melepuh! Bukan karena api. Bukan.
PENYELAM I: Tapi rencana besar itu telah mengempang sungai-sungai menjadi danau.
PENYELAM III: Adalah dirimu, perempuan tangguh yang teduh, yang sering mengingatkan aku pada dunia di seberang jendela: hamparan luas yang menunggu kakiku.
PENYELAM I: Jakarta, kisahmu suatu kali, Bak pusat jala. Ikan-ikan yang terjaring berdesakan di sana!
PENYELAM II: Kami tertarik, Ibu. Cita-cita, dengan segala bentuknya bertubi-tubi menimpa jiwa, menggunung di rongga dada. Menyimak mimpi-mimpimu, kami diam-diam membayangkan diri jadi pangeran, mungkin semisal Hang Tuah, atau Tan Malaka: sosok-sosok yang tak pernah diam. Kami ingin jadi sesuatu untuk melipur rindumu, Ibu.
PENYELAM I: “Keinginan,” tuturmu pula. “Letus-letus yang lara. Dengarlah. Sesiapa telah berkurun-kurun menyalakan api di nadimu. Segala yang terbakar mengabu di tumit para pesinggah. Mereka dan juga kita selalu ingin ditemani membakar sobekan hari. Keinginan: nyala pemerah mata belati. Sesiapa yang lain terus menakik darahmu, memahat jantungmu tak henti-henti. Lalu, apa lagi yang kau tunggu. Maukah kau padam sendiri? Ah, berburulah, Anak Jantanku!”
PENYELAM III: Perburuan itu, Ibu, digelar di sebuah padang. Di sana, orang-orang merunut belukar dengan kaki, pisau, tombak, senapan, dan anjing masing-masing. Mungkin babi, kijang, rusa, atau apa saja yang bernasib malang ketakutan sekali.
PENYELAM II: Anak-anak jantanmu berkubang di antara para pemburu itu, Ibu. Hari-hari yang meluncur di ketiak waktu melingkar dalam debar harapan akan bangkai buruan yang memerah dibabat peluru, ditebas pisau, ditikam tombak, atau diterkam anjing-anjing.
PENYELAM I: Begitulah. Para pemburu tak boleh berkenalan dengan kata pulang sebelum buruan menggelepar.
PENYELAM III: Bila saat pulang tiba, saat menjemput kenangan, sejenak orang-orang melepas belenggu lelah. Sunyi yang melilit diri. Anak-anak jantanmu disergap rindu yang alang-kepalang. Ranah Koto Panjang, rumah kita, ngangkang di udara. Sebuah layar tak berhingga menampilkannya. Bukit berbaris di sekeliling perkampungan. Sungai-sungai kecil berjabat tangan di perut rawa.
PENYELAM I: Kami rindu burung-burung pemakan buah kayu yang sangat menyukai hutan kita. Burung-burung yang selalu bernyanyi meski pagi tetap dingin. Dengarlah cericitnya. Kami sangat mencintainya, Ibu. Bukan hanya karna tangis pertama kammi menggema di sana, bukan. Sejumlah rencana telah kami rancang untuk kampung yang terbenam ini, Ibu.
PENYELAM II: Kepulangan kami, kepulangan yang sakit, Ibu. Layar tak berhingga itu, entah mengapa memajang tubuh ringkih ayah. Ia seperti senja bagi langit kita. Mengharapkannya, kita seperti elang lapar. Nyalang. Kita rentang-rentangkan sayap, bukan hendak menerkam. Tetapi haus pelukan. Tiba-tiba saja, semburat merah muncrat di ufuk yang jauh. Langit kita tak lagi biru. Walaupun kita masih dijatahi matahari esok, tapi ia bergulir di langit yang lain. Duh, Ibu, hari-hari kita terseok di sulur-sulur cahaya. Ayah pergi berlalu dan tak menoleh selayang jua. Lelaki yang membuat rahimmu mengandungku itu pergi ke rumah lain. Menciptakan perahu sendiri. Di laut yang terpisah ia seolah berujar: “Mari berlayar di gelombang masing-masing, dengan perahu masing-masing, dayung masing-masing, lentera masing-masing, membenam di kedalaman dan kedangkalan masing-masing. Pantaiku tetap untuk kalian, mantan istri dan anakku!”
PENYELAM III: Kita tetap ada di pelayarannya, Ibu. Tapi begitu tersudut di tepian. Tak apa-apa, seperti hiburmu juga: “Tak semua laki-laki berhasil jadi ranting bambu yang menjunjung gagang buncis di pendaman sampai ke panen. Sebagian gagal. Ia hanya sempat jadi pimping yang rapuh lalu tergolek dilalap humus.
PENYELAM I: Kisah tentang ayah, Ibu, selain sakit juga panjang. Menjela-jela tak berketentuan. Tapi, bagaimanapun, kami tetap akan pulang menjengukmu. Menggendong bangkai buruan yang kami tabung sejak berkenalan dengan hidup yang batu, juga do’a-do’a.
PENYELAM II: Meski hanya sejenak, bersimpuh dengan segenggam bunga di tanah merah pusaramu adalah pelerai sakit kami. Anak-anak jantanmu ini sangat percaya, Tuhan telah menganugrahi ciptaan-Nya bermilyaran kendaraan malaikat yang siap mengangkut do’a para anak untuk ibu-ibu mereka. Jangan takut, Ibu.
PENYELAM III: Kami selalu sedia mengirim sekepal dua kepal nasi untuk laparmu, seteguk air untuk hausmu, lapang untuk sempitmu, sejuk untuk panasmu, hangat untuk dinginmu.
PENYELAM I: Kami selalu menyeru-Nya: retas segala aral, segala semak, segala duri, kerikil yang menghunjam di jalan menuju sorga.
MEREKA TERTUNDUK KHUSUK DALAM MUNAJAT. SUASANA
015
PANGGUNG PERLAHAN BERALIH KE PEMBACA BERITA.
PEMBACA BERITA: Rekan Warta, silakan laporan Anda!
TAMPIL SEORANG REPORTER SEDANG MEWAWANCARAI PENDUDUK
REPORTER: Penduduk di pemukiman Rimbo Datar kini dihantui bencana kekeringan. Salah seorang penduduk yang kami temui menyatakan,
PENDUDUK: Kampung kami terbenam. Di daratan kami kekeringan. Bisa Anda lihat sendiri, Kurang lebih 15 tahun tiang-tiang listrik itu kuyup dalam lumpur, tetap tegak lurus menunjuk langit sekalipun tak ada lagi cahaya yang akan dikirim ke rumah-rumah yang membangkai. Di daratan sudah ada yang menggantikan. Terutama di hulu, bekas perkampungan Tanjuang Bolik, tiang-tiang itu muncul ke permukaan. Memprihatinkan. Apalagi belakangan ini, bencana asap susul-menyusul. Kekeringan sudah melanda kampung kami ini selama tiga minggu.
REPORTER: Akibat ketinggian air yang mendekati darurat itu, dari tiga turbin yang ada di PLTA Koto Panjang, hanya satu turbin saja yang dapat dioperasikan karena tekanan air yang ada tidak kuat menggerakkan turbin hingga mencapai kapasitas maksimalnya sebesar 38 Mega Watt (MW) per-turbinnya. Meski masih bisa digerakkan, namun turbin-turbin itu tidak bisa mencapai kapasitas produksi maksimalnya. Saat ini, turbin-turbin itu hanya mampu menghasilkan daya sebesar 32-35 MW saja, padahal kapasitas terpasangnya mencapai 38 MW. Reporter anda melaporkan langsung dari lokasi. Sekarang kita kembali ke studio. Rekan Rita.
016
PERLAHAN KE PENYELAM
PENYELAM II: Bagaimana lagi, bubur sudah matang. Kenapa mengidam nasi? PENYELAM III: Lapangan bola sudah jadi rawa.
PENYELAM I: Berbidang kebun karet membusuk. Sawit mati muda.
PENYELAM III: Berhektar sawah membentang sia-sia.
PENYELAM II: Demi kemajuan, tak ada padi yang bernas setangkai. Seperti yang sering kau geleng-gelengkan, Ibu.
PENYELAM I: Kemajuan itu pula yang menggoda anak jantanmu ini, seperti selekuk gelombang yang berharap-harap pada radio: Suarakan sakit kami. Beri hati kami bangku. Angkutlah! Biar ia sempat pula muncul sebagai lekukan di pucuk-pucuk signal dan ketakmenentuan ini. Oi, peradaban makin licin, makin tak terjinakkan. Telah kami gembalakan hati tipis ini ke sejumlah padang, tapi ranjau ilalang itu, ketajamannya menciutkan pori-pori.
PENYELAM III: Pada kesempatan lain, kami menjelma aksara yang menghiba dalam koran: Raba dan beritakan rindu kami. Beri cita-cita kami tali. Terlalu lama baginya menggelinding dari kemiringan ke kemiringan, ke dataran, memantul ke awang, dan berdentum di ketidakmengertian, ketinggian. Oi, Koran! Kisahkan tangan ibu kami yang mengeras di hulu cangkul. Bertahun-tahun ia tampar sekawanan humus dan lumpur-lumpur bumi ini. Di gulungan tali kerbau, di serajut rumput, di onggokan tahi kambing, nasib berpilin-pilin tak terkemasi. Jika senja meretas langit, burung-burung pulang ke sarang, ibu terseok di pelipis jalan, seperti kayu bakar. Tak boleh bertunas, tak boleh berdaun, tidak boleh basah. Lalu, siapa saja boleh jadi api. Siapa saja boleh jadi tungku. Siapa saja boleh jadi periuk, jadi kuali. Siapa saja boleh jadi kangkung, jadi daun ubi. Siapa saja boleh jadi garam, jadi daun kunyit, jadi air yang mendidihkan perjalanan.
PENYELAM II: Dalam televisi kami merupa jadi warna-warna kabur: rupakan luka kami. Rautlah. Oi, Televisi, berapa kilometer lagi yang harus kami tempuh rindu hingga ziarah kami sampai ke dekapan ibu? Keterasingan ini amat panjang. Kami ingin keluar dari lingkaran kekalahan ini.”
KE PEMBACA BERITA
BERITA: Selain itu, kabar tentang krisis listrik di kawasan bagian barat negri ini semakin buruk saja. Pihak Perlistrikan kemarin mewartakan, ketinggian air di bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang, telah mendekati kondisi darurat. Itu artinya PLTA Koto Panjang tidak bisa diharapkan akan mampu menyediakan daya maksimalnya dalam waktu dekat.
017
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU. PARA PENYELAM BERKELIARAN SEDEMIKIAN RUPA. GELEMBUNG AIR YANG MENIMBULKAN SUARA-SUARA KHAS SEMAKIN BANYAK. DIIRINGI MUSIK, TERDENGAR ANAK-ANAK REMAJA MEMBACA PUISI
PUISI : selain dedaun melapuk terasing dari tampuk
hanya ada sisa pembakaran saja
musim menyilih hari tanpa bunga
di sini, di sehamparan negeri yang merabuk hasrat
sampai merimba belantara
kemana kematian ini mesti di muarakan
setelah bulan di seberang malaka yang jauh
menyisipkan bius di balik cahaya kikirnya
bangunlah, ibu
apalagi yang mesti ditulis dari mimpi yang kehilangan aksara,
jauh dari hikayatmu puisiku tumbuh meliar
dan menjadi keparat begini
memburu kata ke setiap sudut kamus paling belakang
tanpa catatan kaki merobeknya jadi bungkusan sunyi
dan ketika angin khatulistiwa menutup catatan
dari hulu batang rokan, makna yang lelah di seterui kini lusuh
hanyut menghilir di bawah balak-balak curian
tapi tak sengiang pun risau menyahuti igaunya
sampai ia membisu di bibir anak-anak laut
seperti jemariku begitu sibuk memetik gambus perburuan
meski tak bisa kulengkapkan talinya (memang tak pernah bisa
kulengkapkan)
para perimba pun tak lepas mencicil keberuntungan
mengikis lunau di kaki
“cukup waktunya bagi malang melintang di dada yang asma
tak mungkin lagi kami jadi lebai!”
tapi aku tengah merindu ibu
di manakah ketipung menggema meningkahi zapin
di antara sungai-sungai yang mengeruh bersebab umpatan
di siakkah?
di indragiri?
atau kampar?
bangunlah ibu kegembiraan ini
tak lagi manis
irama yang mengetuk dari segala muara begitu bawel
dan nyinyir, mengirimi aroma garam
tapi perempuan tak lagi seranji sehikayat
mereka kehilangan belanga di dapur
ikan-ikan memulangkan sirip dan insang pada serpih terumbu
atau akar-akar bakau nan lengang
di sini, disehamparan negri
para pendongeng membujurkan garis jauh ke barat
melangkahi punggung bukit barisan jadi diam
tanpa bunga musim menyilih dengan tangkai serupa
setiap hari anak-anak mencabuti duri di tubuhnya
dengan telinga menyaga merah bekas jeweran guru
betapapun retak mereka dipaksa merenggut gading dari gajah
sesekali ada yang mencari rasa kelidah sejarah
seperti lelaki mengincar tubuh pacar belianya
membisikkan rayuan sampai ke ranjang
tapi kakinya terpancang cuma pada sampiran
segala isi meruah tumpah bersama ludah
di sepanjang ladang-ladang minyak
mereka tak pernah sampai ke pelaminan
tak ada pantun terselesaikan sampai ke nyanyian
tapi aku makin merindu ibu
bangunlah ibu
penyesalan telah memiangi jasad sampai ke sunsum
FADE OUT
S E L E S A I
Payakumbuh-Padang-Pekanbaru, 2004-2007
