ZELFENI WIMRA

June 6, 2008

SURAT TERBUKA KEPADA GUBERNUR SUMBAR

SEMOGA Kakanda senantiasa berada di bawah lindungan petunjuk-Nya. Amin. Kenapa saya memanggil Kakanda, sementara orang banyak memanggil Bapak? Ini semata keinginan untuk bisa merasakan kedekatan saja. Suasana hati antara adik dan kakak ketika mengemukakan perasaan dan pikiran menurut hemat saya lebih luas ruangnya dibanding bila seorang anak dan Bapak berdialog. Dengan begitu, bila surat sampai, saya pasti bangga menjadi adik seorang Gubernur. Satu lagi, di masa serba digital ini, berkirim surat sudah jarang terjadi. Seluruh hajat hidup seakan berada di ujung jari. Ingin berkeluh-kesah kepada presiden saja, bisa dilakukan dengan mengetik SMS.
Selain itu, ini bukan lagi yang pertama terjadi. Asrul Sani pernah melakukan ini, menulis surat ke Sudiro, Walikota Jakarta dalam Surat KepercayaanTerbuka, (Siasat, 3 Januari 1954) Gelanggang. Terbersit kesimpulan, soal-soal yang melatarbelakangi Asrul Sani menulis surat padaWali Kota Jakarta, setelah puluhan tahun berlalu, ternyata masih ada hingga sekarang. Salah satu di antara persoalan itu ialah kesempatan bercakap-cakap dari hati ke hati dengan Pemimpin Daerah. Kesempatan yang mahal. Kalaupun ada, tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya. Didapatkan pun, harus melewati tata laksana yang disusun protokoler.
Baiklah. Semua itu hanya hal-hal teknis yang bisa saja menjauhkan kita dari beberapa maksud dan tujuan surat ini. Maafkanlah saya bila tuturan surat ini bermain di luar tata krama. Semampunya, saya akan memberikan penghormatan sepenuhnya kepada apa yang tertuang dalam baso jo basi, dan keluhuran pepatah adat kita. Bapak bagi saya santano gunuang tapatan kabuik; rimbo tapatan hujan; bak taluak palabuhan kapa, di sinan sambah mangkonyo tibo.
Kakanda Gubernur yang berhormat. Selanjutnya, saya akan kemukakan beberapa persoalan yang belakangan ini mengusik kepala saya. Namun sebelumnya, sedikit saya paparkan tentang diri saya.
Saya lahir di nagari Sungai Naniang, kecamatan Bukikbarisan, luak limopuluahkoto, bersebelahan dengan kecamatan Gunuangomeh yang beribukota Kototinggi. Sekarang menetap di Padang. Keseharian saya, dekat dengan disiplin kerja budayawan-seniman daerah ini, yakni sebagai penulis lepas. Kadang menulis puisi, kadang cerpen, esai, dan sekarang menulis surat yang isinya paling tidak senada dengan esai.
Beberapa kondisi mengantar saya pada aktivitas tulis-menulis ini: sebuah aktivitas hidup yang misterius. Keberadaan saya seperti peserta terakhir dalam daftar budayawan ataupun seniman yang ada di daerah ini. Menurut saya sebutan seniman, sastrawan, atau budayawan adalah sebutan hiburan. Kenapa? Jika ada yang bertanya pada seorang seniman atau budayawan, apa pekerjaannya, ia akan sulit mengatakan bahwa dirinya adalah budayawan, sastrawan, atau seniman. Dalam data kependudukan pun pernah terjadi beberapa kejadian lucu sekaligus haru. Ada seniman yang mengurus KTP, tetapi tersentak ketika harus membubuhi status pekerjaannya, senimankah, sastrawankah, atau budayawan?
Bagi kawan-kawan yang disebut seniman, sastrawan, atau budayawan itu yang sudah patut menjadi minantu orang, juga akan kelabakan ketika ditanya, apa pekerjaanmu, Nak? Sengaja saya kutip sebuah kejadian. Tahun 2004, Gus Tf, salah seorang sastrawan yang berdomisili di Payakumbuh pernah diundang menerima hadiah dari kerajaan Thailand. Mudah-mudahan Kakanda kenal dengannya. Ia pernah menulis cerpen berjudul Ulat dalam Sepatu. Cerpen itu sangat bagus. Bercerita tentang kantor Gubernur yang kelabu karena dibungkus ulat berlendir yang dari hari ke hari keluar dari sepasang sepatu.
Ketika dilepas oleh para seniman dan budayawan melalui Dewan Kesenian di bawah pimpinan Ivan Adila waktu itu, ia sekaligus membawa mertuanya. Saat memberi sambutan, ia mengatakan pada mertuanya, bahwa hari itu ia sudah dapat jawaban terhadap pertanyaan yang sering disampaikan pada mertuanya: Apa pekerjaan menantu Bapak?
Saya percaya, Kakanda Gubernur punya apresiasi terhadap realitas kehidupan budayawan, sastrawan, atau seniman. Dulu, semasa masih menjabat Bupati, Kakanda pernah merilis album lagu Pop Minang dan penjualan kaset dan CD-nya disumbangkan untuk pendidikan anak-anak terlantar. Seluruh warga Sumatera Barat pun tahu, lagu Bunian Bukik Sambuang tercipta dari napak tilas yang Kakanda lakukan dalam rangkaian perjalanan kepemimpinan. Sebuah pengalaman yang menyiratkan, bahwa perjalanan yang sudah jelas tujuannya pun masih harus melawati jalan dan tuntunan tertentu. Apalagi perjalanan yang belum jelas tujuannya. Alam yang mengajarkan. Alam takambang jadi guru.
Banyak lagi kondisi objektif kehidupan budayawan-seniman yang terluputkan dari prinsip-prinsip eksistensialisme yang kita anut. Di antaranya, saya ingin kemukakan, pergolakan pendapat antara beberapa budayawan-seniman perihal berapa ongkos untuk kegiatan seni-budaya yang dironggoh dari “kocek” APBD? Coba tarik perbandingan antara anggaran olah raga dan anggaran seni-budaya. Kemudian, mari pula sandingkan biaya pelestarian seni-budaya tradisional dengan dana operasional pengukuhan Uda-Uni di provinsi ini? Demikianlah, sisi lain dari realitas kebudayaan yang sedang kita perankan. Belum lagi membahas upaya mengembangkan seni-budaya dalam karya nyata yang refresentatif. Berapa katalog buku yang telah mengabadikan karya-karya seni dan sastra anak-anak nagari pertahun, misalnya? Dan banyak lagi pertanyaan lain.
O ya, Akhir-akhir ini, saya dengar pula, Kakanda sudah menamatkan buku ke tiga dari Tetralogi Andrea Hirata, Endensor. Saya tidak beralasan untuk mengatakan Kakanda tidak punya apresiasi terhadap dunia kreativitas seni, sastra, dan budaya. Ditambah lagi, di pasukuan Kakanda menyandang gelar Datuak Rajo Bagindo. Menjadi mamak dan suri tuladan bagi anak kamanakan sarato urang sanagari. Adat kita menyebutnya: bak cando baringin di tangah koto, ureknyo tampek baselo, batang tampek basanda, daun kajadi payuang panji.
Dari itu semua, saya semakin yakin untuk mengutarakan kegelisahan yang saya idap belakangan ini. Kegelisahan yang saya maksud bermula ketika membaca tulisan budayawan Alwi Karmena: Lidah Profesor Kesleo atau Akalnya? (Padang Ekspres 02/06/08). Alwi Karmena tersentak oleh perkataan Salmadanis seorang Profesor di IAIN Imam Bonjol Padang yang hadir dalam Seminar Internasional 55 Tahun Penyair Taufik Ismail dalam Sastra Indonesia mewakili Rektor. Acara tersebut disiarkan langsung TVRI Sumbar, Rabu 28 Mei 2008.
Beberapa argumentasi Alwi Karmena terarah pada kesimpulan, bahwa tidak pada tempatnya seorang profesor berkata: “…Begitu dalamnya makna puisi yang saya baca, sehingga saya dapat mengatakan- Sebagai penyair Taufiq Ismail sudah ”menuhankan” manusia. Manusia telah menjadi Tuhan dalam kata-kata indah yang tercipta di puisi puisinya. Puisi(Taufiq) sudah setara dengan tauhid, bagaikan ayat ayat suci….” Dari perkataan tersebut, Alwi Karmena berkesimpulan: Tuhan sudah setara dengan manusia. Ayat-ayat suci sudah setara dengan puisi Taufiq Ismail.
Para apresiator diskursus ini, tak putus dirundung heran. Pertanyaan demi pertanyaan bergulir. Diskusi yang berkembang pun menyeruduk ke sana kemari. Sekalipun Salmadanis sudah memberikan pernyataan sebagai hak jawabnya dengan menegaskan bahwa maksud perkataannya itu bukan menyamakan penyair dengan Tuhan atau menyetarakan puisi dengan ayat-ayat suci al-Quran. Tetapi, maksud Salmadanis adalah memberikan penghormatan pada penyair dan puisi yang bekerja dalam siklus keindahan yang sarat nilai ke-Tuhanan dan kemanusiaan (Padang Ekspres, 03/06/08). Tidak ada maksud Salmadanis menyetarakan dengan Tuhan (Allah) seperti juga sudah dinetralisir Yulizal Yunus, salah seorang pembicara pada Seminar Internasional tersebut. Cuma saja, silang pendapat masih berkerumun seperti benang kusut. Belum ditemukan mana ujung dan mana pangkalnya.
Kenapa saya sampaikan ini pada Kakanda? Pertama, dalam tulisan Alwi Kamena tersebut, ia ceritakan pula: Gubernmur Gamawan Fauzi yang bergegas keluar, langsung saya papasi. ”Bagaimana sebenarnya maksud ucapan Salmadanis tadi, Pak Gubernur?” tanya saya. Dengan senyum kecut, Gamawan yang juga seorang seniman itu tampaknya juga kecewa. ”Ambo takuik bakomentar. Babahayo beko kalau jadi polemik…” ujar Gubernur sambil mengecutkan bahu dan masuk ke mobilnya.
Agak keluar dari konteks persoalan yang diapungkan Alwi Karmena atas ketidaksejutuannya terhadap perkataan Salmadanis, saya sesungguhnya menaruh harapan, Kakanda mengeluarkan sepatah dua patah kata pada Alwi Karmena. Sebagai pendingin. Sebagai sebuah upaya menumbuhkan spirit netral dan energi sportif dalam berpendapat. Tatapi, itu tidak terjadi. Saya pun tentu tak bisa menduga apa sebabnya. Kalau cuma karena takut akan ada polemik, saya masih kurang percaya. Sebab, yang saya kenali dari dunia seni, termasuk sasrta, polemik itu, asal konstrukstif, adalah barang halal. Justru, polemik merupakan bahan bakar kreativitas. Basilang kayu di tungku, di situ api mako ka iduik, begitu falsafah Minang mengatakan.
Kembali ke wacana yang diusung Alwi Karmena. Ini bukan kejadian pertama kali. Khazanah ke-Tuhanan (theology) sudah sejak lama masuk ke dalam kajian sastra. Ada al-Hallaj yang dihukum mati karena perkataannya: Ana al-Haq; ana al-Lah. ada Naguib Mahfouz yang lebih memuji iman pelacur daripada iman ulama-ulama Negara dalam cerita rekaannya. Ada Ki Panji Kusmin yang digugat karena cerpen Langit Makin Mendung, bercerita tentang Tuhan yang berkacamata bingkai emas, sehingga HB Jassin masuk terali besi karenanya. Dari Minangkabau, ada AA Navis yang terkenal dengan Robohnya Surau Kami, bercerita tentang Ajo Sidi yang mengibuli kakek garin tentang ulama yang rajin beramal itu ternyata masuk neraka.
Dalam ranah retorika sastra, apalagi puisi, diksi Tuhan keluar-masuk, lalu-lalang, melintas-melintas begitu saja. Tetapi ketika puisi yang menyertakan diksi Tuhan atau membawa-bawa nilai-nilai ke-Tuhanan (spiritual-transedental) tersebut sampai di pikiran apresiatornya, pendapat yang muncul kadang lebih dahsyat dan berbahaya dari maksud dan cita-cita puisi itu sendiri.
Inilah persoalan yang mengusik saya itu, Kakanda. Saya jadi menduga-duga, bekerja sebagai penulis puisi yang strata sosialnya masuk ke dalam folder Budayawan tersebut memiliki karakter super-sensitif. Antara dia dan apresiatornya sering berbeda cara memaknai. Di balik itu semua, keberagaman makna dalam sosialisasi karya puisi malah sangat diharapkan. Namun, apa jadinya ketika puisi dan ke-Tuhanan saling memasuki, sementara kita enggan mencerahinya dengan pikiran?
Kepada Kakanda juga akhirnya dicurahkan. Kehidupan riil budayawan boleh saja “misterius” selamanya. Kemakmuran finansial mereka–apalagi dengan kenaikan BBM-mungkin tidak senyaman elite sosial lainnya. Tapi, sari pati pemikirannya, kenapa pula mesti kita giring ke cara berpikir yang tidak konstruksitf. Yang lebih rumit, kenapa pula mesti tidak mau ambil bagian; cari jalan aman. Sementara, bicara Sumber Daya Manusia, Sumatera Barat sekarang punya apa? Taufik Ismail, putra kelahiran Sumatera Barat itu adalah produk: karatang madang di ulu/babauh babungo balun/ka rantau dagang daulu/di kampuang paguo balun.
Terakhir. Ini semua tercurah, karena saya menaruh harapan, kiranya kompleksitas manejerial seni-budaya daerah ini–apakah status finansial budayawan-seniman atau pengelolaan aspek sosialisasi seni-budaya-di masa Kakanda menjabat tercatat dalam sejarah sebagai performance yang tertata rapi dan dikenang sepanjang masa. Amin.

Terima Kasih dan Salam
Adinda,
Zelfeni Wimra

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/kepada-gubernur-sumbar/trackback/

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    Comment by Qinimain Zain — September 7, 2008 @ 12:32 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham