<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>ZELFENI WIMRA</title>
	<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com</link>
	<description>BILA HATI  SUDAH KOSONG, OTAK TIDAK ADA GUNANYA</description>
	<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:31:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Pengantin Subuh Masuk 8 Besar KLA Award 2009 Kategori Penulis Muda Berbakat</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/10/22/pengantin-subuh-masuk-8-besar-kla-award-2009-kategori-penulis-muda-berbakat/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/10/22/pengantin-subuh-masuk-8-besar-kla-award-2009-kategori-penulis-muda-berbakat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>bilik pribadi</category>
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
	<category>agenda</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/10/22/pengantin-subuh-masuk-8-besar-kla-award-2009-kategori-penulis-muda-berbakat/</guid>
		<description><![CDATA[	Pengantin Subuh
(sumber: http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com)
	Berikut adalah keputusan akhir dewan juri untuk kategori Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award ke 9, 2009.
	Pada akhirnya dewan juri hanya memilih 8 karya yang memenuhi syarat kategori ini dan mereka yang lolos untuk penilaian berikut adalah (dalam urutan tak teratur):
	1. Kartini Nggak Sampai Eropa/Sammaria
2. Aku Lelah Menjadi Cantik/Koko P. Bhairawa
3. 9 Matahari/Adenita
4. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pengantin Subuh<br />
(sumber: http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com)</p>
	<p>Berikut adalah keputusan akhir dewan juri untuk kategori Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award ke 9, 2009.</p>
	<p>Pada akhirnya dewan juri hanya memilih 8 karya yang memenuhi syarat kategori ini dan mereka yang lolos untuk penilaian berikut adalah (dalam urutan tak teratur):</p>
	<p>1. Kartini Nggak Sampai Eropa/Sammaria<br />
2. Aku Lelah Menjadi Cantik/Koko P. Bhairawa<br />
3. 9 Matahari/Adenita<br />
4. Lika Liku Luka/Celinereyssa<br />
5. Etzhara/Rino Styanto<br />
6. Pengantin Subuh/Zelfeni Wimra<br />
7.Separuh Bintang/Evline<br />
8.Fortunata/Ria N. Badaria</p>
	<p>Sedangkan untuk Kategori Prosa dan Puisi tidak berubah, sebagai berikut:</p>
	<p>5 Besar Prosa:</p>
	<p>1. Meredam Dendam/Novel/Gerson Poyk<br />
2. Sutasoma/Novel/Cok Sawitri<br />
3. Lembata/Novel/F. Rhardi<br />
4. Lacrimosa/Kumpulan Cerita Pendek/Dinar Rahayu<br />
5. Tanah Tabu/Novel/Anindita S. Thayf</p>
	<p>5 Besar Puisi:</p>
	<p>1. Dongeng Anjing Api /Sindu Putra<br />
2. Kolam/Sapardi Djoko Damono<br />
3. Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa/Wendoko<br />
4. Puan Kecubung/Jimmy Maruli Alfian<br />
5. Perahu Berlayar Sampai Bintang/Cecep Syamsul Hari</p>
	<p>Kepada semua finalis, harap hadir pada malam Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 9, bertempat di Plaza Senayan, Jl. Asia Afrika, Jakarta. Dan harap kirim foto penulis, sampul buku, dan biodata ringkas ke Bu Tuti di paramastuty2000@yahoo.com dan Mas Alwi di alwiere@yahoo.com<br />
untuk dimasukkan ke dalam buku program.</p>
	<p>Hal sama juga kami mintakan dari para finalis di kategori Prosa dan Puisi. Harap dikirim secepatnya.<img src="http://" alt="" />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/10/22/pengantin-subuh-masuk-8-besar-kla-award-2009-kategori-penulis-muda-berbakat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>yang dipikirkan rama-rama</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/03/17/yang-dipikirkan-rama-rama/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/03/17/yang-dipikirkan-rama-rama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 17:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/03/17/yang-dipikirkan-rama-rama/</guid>
		<description><![CDATA[	siapa yang meruncing duri di tangkai mawar?

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>siapa yang meruncing duri di tangkai mawar?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2009/03/17/yang-dipikirkan-rama-rama/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>humor: ekspresi pemberontakan paling halus</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/10/13/humor-ekspresi-pemberontakan-paling-halus/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/10/13/humor-ekspresi-pemberontakan-paling-halus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 07:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/10/13/humor-ekspresi-pemberontakan-paling-halus/</guid>
		<description><![CDATA[	Beberapa Kutipan Anekdot Nashruddin Khoujah
	Nashruddin Menangisi Raja

Suatu hari raja jelek, yang buta sebelah dan pincang, yang berteman dengan Mullah, ingin memangkas rambutnya. Tukang cukur pun datang, memangkas rambutnya clan seperti biasanya memberinya cermin untuk bisa melihat bagaimana tukang cukur itu merapihkan rambutnya yang kusut. Ketika menengolc ke dalam cermin, raja melihat kejelekannya clan mulai menangis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Beberapa Kutipan Anekdot Nashruddin Khoujah</p>
	<p><em>Nashruddin Menangisi Raja<br />
</em><br />
Suatu hari raja jelek, yang buta sebelah dan pincang, yang berteman dengan Mullah, ingin memangkas rambutnya. Tukang cukur pun datang, memangkas rambutnya clan seperti biasanya memberinya cermin untuk bisa melihat bagaimana tukang cukur itu merapihkan rambutnya yang kusut. Ketika menengolc ke dalam cermin, raja melihat kejelekannya clan mulai menangis. Mullah tidak bisa menahan ibanya, dia pun mulai menangis. Mereka berdua sama-sama menangis agak lama. Orang-orang terdekat di situ mulai menghibur keduanya tanpa mengetahui sedikit pun alasan mereka menangis.<br />
Maka orang jelek itu berhenti menangis, tetapi Mullah tidak. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya. Orang jelek yang pertama menangis sangat heran melihat air mata Mullah terus menerus keluar. Dia berkata:<br />
“Dengar Mullah! Aku perhatikan ke dalam cermin, dan melihat betapa jeleknya aku, aku menjadi sedih, sebab aku tidak hanya seorang raja, melainkan juga kaya akan wanita. Aku jelek, dan hanya inilah alasan aku menangis. Tapi … jelaskan kepadaku bagaimana tentang kamu? Kenapa kumu terus-terusan menangis?”<br />
Sambil menengok raja, Mullah Nasruddin menjawab, `:4nda melihat ke dalam cermin hanya satu kali, melihat din’ Anda dan menangis tidak tertahankan. Namun apa yang kami bisa lakukan sebagai orang-orang yang harus melihat muka Anda sepanjang hari dan malam?jika saya tidak menangis, lalu siapa lagi?! Inilah alasan saya menangis!”</p>
	<p><em>Rugi Sepanjang Hay</em>at</p>
	<p>Suatu hari pakar tatabahasa naik kapal. Dia bangga atas kepakarannya dalam<a id="more-23"></a> bidang tatabahasa. Sedangkan di kapal tiada orang lain kecuali Mullah Nasruddin. Suatu saat orang kapal mulai menghidupkan kapalnya, pakar tatabahasa berkata padanya,<br />
“Katakan kepada saya, pernahkah Anda belajar tatabahasa?”<br />
Mullah menjawab, “Tidak, tuan!” Kemudian pakar tata-bahasa itu berkata lagi, “Jadi separuh hidup Anda tidak digunakan untuk apa-apa.”<br />
Mullah sakit hati tetapi dia melanjutkan mengarahkan kapal ke tujuannya. Di suatu tempat tertentu di tengah laut, kapal masuk pusaran air. Pada saat yang mendadak itu Mullah berteriak, “Tuan, katakan pada saya apakah Anda tahu cara berenang?”<br />
“Tidak!” jawab pakar tatabahasa.<br />
“Dalam hal ini,” jelas Mullah, “Seluruh hidup Anda sia-sia!”</p>
	<p><em>Andaikata Semua Hari Itu Hari Raya<br />
</em><br />
Nashruddin pergi ke sebuah kota pada saat daerahnya mengalami musim paceklik. Di sana la melihat penduduknya bersukaria dan hidup mapan. Mereka menyuguhkan manisan termahal clan makanan paling enak. Dengan perasaan heran Nashruddin bertanya, “Mengapa daerah ini berekonomi tinggi clan hidup mapan? Sedangkan penduduk daerahku sedang mengalami krisis pangan?” Salah seorang hadirin menjawab, “Tahukah Anda bahwa kami sedang berhari raya?” Semua orang menghidangkan manisan dan makanan paling enak, lebih enak daripada makanan dan manisan dalam setahun.” Sejenak Nashruddin berpikir, lalu berkata, “Andaikata setiap hari adalah hari raya, maka penduduk daerahku selamat dari kekurangan makanan.”</p>
	<p>****<br />
<em>Zelfeni Wimra, </em>Divisi Program Magistra
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/10/13/humor-ekspresi-pemberontakan-paling-halus/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>ANDAIKATA HARI RAYA ITU SETIAP HARI</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/09/26/andaikata-hari-raya-itu-setiap-hari/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/09/26/andaikata-hari-raya-itu-setiap-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 07:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/09/26/andaikata-hari-raya-itu-setiap-hari/</guid>
		<description><![CDATA[TUHAN SELALU MENGIRIM HARI RAYA BAGI LENGANG KITA. SELAMAT]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Oleh</em> Zelfeni Wimra</p>
	<p><em>Nashruddin pergi ke sebuah kota pada saat daerahnya mengalami musim paceklik. Di kota itu ia melihat penduduk bersuka ria dalam kemegahan hidup. Mereka semua berpakaian baru dan wangi sembari menikmati suguhan makanan termahal yang serba lezat. Mereka sungguh riang.<br />
Dengan perasaaan heran, Nashruddin bertanya, </em><br />
<em>“Mengapa kota ini berekonomi tinggi dan masyarakatnya hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan? Apa penyebab penduduk di sini semua kaya-raya dan bahagia, sedangkan penduduk daerahku sedang mengalami krisis pangan?”</em><br />
<em>Salah seorang warga kota yang mendengar gumaman Nashruddin menjawab,<br />
“Tahukah Anda bahwa kami sedang berhari raya? Semua orang menghidangkan minuman dan makanan paling lezat, lebih lezat dari makanan dalam setahun…”<br />
Nashruddin sejenak berpikir, lalu berkata,<br />
”Andaikata setiap hari adalah hari raya, maka penduduk daerahku tentu akan selamat dari kekurangan makanan. Tentu, penduduk daerahku akan bahagia sepanjang hari…”</em><br />
Nashruddin terkesan konyol. Jika logika yang dipakainya dibawa ke tengah gaya hidup hari ini, Nashruddin akan mendapat cibiran.<br />
“Oi, Nashruddin, kamu tahu tidak, hari raya itu <a id="more-22"></a>hanya dua kali dalam setahun. Itu sudah ketentuan Tuhan. Dialah yang memberi kita hari raya!” teguran semacam ini sangat mungkin diterima Nashruddin. Agar Nashruddin cepat-cepat memulihkan cara berpikirnya yang sedang abnormal.<br />
Akan tetapi, satu-dua orang mungkin akan sepikiran dengan Nashruddin. Berusaha memetik prinsip dari anekdot Nashruddin, seorang sufi yang lahir 1206 di Desa Hortu dekat kota Sivrihisar di bagian barat Anatolia Tengah (Turki Tengah) ini. Prinsip berhari raya yang bisa dipetik itu barangkali berkisar seputar bagaimana mengekspresikan kemenangan spritual tanpa menanggalkan gairah sosial dalam kehidupan modern. Pertanyaan yang melatarinya: kenapa hanya pada hari raya saja orang bisa berbagi, makan-minum, berpakaian baru, dan bahagia bersama?<br />
Di hari-hari yang lain, orang kembali masyuk dengan rutinitas pemenuhan kemakmuran jasmani masing-masing. Orang-orang kembali terikat pada sistem sosial tertentu yang tidak memiliki visi keilahian. Orang-orang seakan lupa bahwa ajaran yang tersirat dari berhari raya itu adalah refleksi seberapa parah individualisme merusak tatanan hidup bermasyarakat? Jika dalam setahun hanya sekali dua kali orang bisa bersama layaknya pada hari raya, betapa banyak hari-hari yang berlalu dalam kemasing-masingan. Sangat jauh perbandingannya.<br />
Prinsip berhari raya yang ingin dipesankan Nashruddin menginginkan pembongkaran gaya hidup yang terjerembab ke dalam kekosongan batin. Layaknya lahiriah, aspek batiniah sesungguhnya juga membutuhkan pemenuhan-pemenuhan; makan-minum, pakaian baru dan wangi; jalinan kasih-sayang, dan sebagainya.<br />
Ritual hari raya mencita-citakan batin yang sejuk. Organisme sosial-keagamaan hanya akan berdialektika dalam keindahan bila diatur oleh sumberdaya manusia yang ber-Tuhan. Keber-Tuhanan ini, tentu tidak akan memberi pengaruh apa-apa bila hanya terjadi dua kali dalam setahun. Energi ke-Tuhanan harusnya bangkit sepanjang waktu. Jika tidak, bisa dibaca citraannya pada pemberitaan media massa tentang sejumlah ketimpangan sosial dewasa ini, angka kiminalitas yang terus meningkat, atau pada proses persidangan beberapa kasus tindak pidana korupsi di negeri ini. Semua realitas tersebut, menggambarkan bahwa prinsip pemerataan harta melalui distribusi zakat dan prinsip saling menyayangi antarsesama tidak mendatangkan pengaruh kuat pada tempat yang terhormat.<br />
Paling tidak, demikianlah turunan rumus-rumus sosial yang tersirat dari anekdot Nashruddin. Arahnya kepada cara menafsirkan ritual keagamaan ke dalam aktivitas kemanusiaan yang tidak hidup sendiri-sendiri.<br />
Ritual keagamaan seperti hari raya dalam konteks ini, tidak bisa dipahami semata karena menghambakan diri pada pencipta (hubungan ilahiyah). Khazanah yang terkandung dalam interaksi dan integrasi sosial (hubungan insaniyah) sesungguhnya yang paling penting. Kenapa?<br />
Untuk memberi argumen pada pandangan ini, pendapat Sayyed Hossein Nasr, ulama pembaharu Iran kelahiran17 april 1933, bisa dijadikan pedoman. Menurutnya, seperti ia tuangkan dalam buku Islamic Life and Thought, pemaknaan aktivitas keagamaan tidak boleh lari dari dasar-dasar humanisme. Sebelum bertemu dan dihisab Tuhan kelak, manusia terlebih dahulu berbaur dengan sesama di bumi. Mementingkan prinsip-prinsip kemanusiaan bukan berarti meniadakan kepentingan ibadah kepada Tuhan. Keduanya serupa anak tangga yang mesti dilalui satu persatu. Bagaimana mengorganisir keduanya, membutuhkan kecerdasan manusia yang tidak statis, manut dan kaku pada satu paham saja. Ketika manut dan kaku, yang akan terjadi kemudian adalah cara berinteraksi yang ekslusif, menjauh dari prinsip dasar kemanusiaan, merasa benar sendiri, dan tertutup terhadap pergerakan ilmu pengetahuan, juga terhadap kecerdasan budaya.<br />
Nasr Hamid Abu Zayd, ulama kelahiran Mesir, 10 Juli 1943, juga secita-cita dengan pandangan Sayyed Hossein Nasr, dalam cara mengarifi fenomena beribadah (ritualitas) umat beragama, khususnya Islam. Dalam bukunya Falsafah at_Ta’wil: Dirasah fi Ta’wil al-Qur’an ‘ind Muhy ad-Din ibn al-“Arabi, beliau mengembangkan asumsi tentang ketepatan memilih metode penafsiran al-Qur’an. Format yang toleran dan berlaku universal terhadap gerak pertumbuhan Islam di banyak tempat dengan akar budaya yang berbeda manjadi acuan utama. Ritual keagamaan, menurutnya berlangsung atas kesadaran bahwa tanpa jalinan interaksi kebudayaan yang beragam, keselamatan dunia-akhirat yang dijanjikan Tuhan mustahil terjadi. Kualitas keamanan, kesajahteraan lahir-batin manusia tidak hadir dari kekosongan. Tetapi tercipta dari pergulatan hidup sebagai manusia yang tercipta dari berbagai bentuk fisik, bahasa, dan budaya yang berbeda.<br />
Hari raya, atau hari besar agama, lazimnya disemaraki dengan berbagai aktivitas dalam suhu interaksi sosial yang meningkat. Sudah bisa dipastikan, tanpa metode pemaknaan dan format pelaksanaan yang mengapresiasi tuntutan dasar kemanusiaan, realitasnya akan tampil sumbang. Para pemegang otoritas agama, budaya, dan negara (tali tigo sapilin) adalah elemen terpenting yang benar-benar harus menguasai konsepsi ini. Pengambilan kebijakan dan arah pengontrolan terhadap gaya hidup masyarakat yang tidak lagi beraturan tersandang pada ketiga elemen ini. Kasus tewasnya puluhan orang yang berebut zakat sebelum hari raya itu tiba kiranya cukup sebagai tanda-tanda ketidakberaturan yang dimaksud.<br />
Sungguhpun demikian, bukan pula sesuatu yang tepat sasaran ketika elemen-elemen tersebut suntuk mengatur, melarang, tanpa gerakan penyadaran yang menyegarkan. Gerakan penyadaran terhadap segelintir oknum yang seenaknya makan-minum di dekat orang yang berpuasa, misalnya, tidak sepenuhnya berhasil dengan peraturan-peraturan legal-formal semata.<br />
Begitu juga terhadap aktivitas atau tradisi berhari raya masyarakat yang tidak terkontrol akan hanyut ke dalam euphoria di kalangan yang mampu. Kemubaziran berpeluang besar terjadi di sini. Sebaliknya, pengontrolan yang terlalu ketat akan mengurangi keindahan bermasyarakat. Dalam diskursus inilah kecerdasan budaya dan pengaktifan hati nurani perlu diutamakan. Penekanannya pada bagaimana aktivitas atau ritual beragama menjadi milik bersama tanpa ada pengecualian dan pengkhususan waktu. Sehingga tidak perlu lagi Nashruddin bergumam: “Andaikata hari raya itu setiap hari, tentu  orang-orang di kampung saya tidak akan kekurangan makanan…[tentu orang-orang di kampung saya tidak ada yang mati karena berebut zakat]” </p>
	<p>Selamat Berhari Raya<br />
Padang, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/09/26/andaikata-hari-raya-itu-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SKENARIO FILM PENDEK</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/skenario-film-pendek/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/skenario-film-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 05:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>bilik pribadi</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/skenario-film-pendek/</guid>
		<description><![CDATA[	Silakan Tunggu
Transaksi Anda Sedang Diproses
	Oleh Zelfeni Wimra
	Silakan Tunggu Transaksi Anda Sedang Diproses
Durasi 30 Menit
Sinopsis: Melly, Seorang Mahasiswi yang berasal dari kampung terisolir, kuliah di kota Provinsi. Orang Tuanya bekerja sebagai petani.
Jauh dari orang tua tidak membuat Melly kuliah dengan tekun.
Ia justru larut dalam hedonisme kehidupan mahasiswa.
Bahkan Melly terlibat pergaulan bebas.
Orang tuanya tak pernah tahu semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Silakan Tunggu<br />
Transaksi Anda Sedang Diproses</p>
	<p><em>Oleh</em> Zelfeni Wimra</p>
	<p><strong>Silakan Tunggu Transaksi Anda Sedang Diproses</strong><br />
Durasi 30 Menit<br />
<em>Sinopsis</em>: Melly, Seorang Mahasiswi yang berasal dari kampung terisolir, kuliah di kota Provinsi. Orang Tuanya bekerja sebagai petani.<br />
Jauh dari orang tua tidak membuat Melly kuliah dengan tekun.<br />
Ia justru larut dalam hedonisme kehidupan mahasiswa.<br />
Bahkan Melly terlibat pergaulan bebas.<br />
Orang tuanya tak pernah tahu semua itu.</p>
	<p>I.	INT. KAMAR KOS – MEJA BELAJAR - MALAM<br />
(BCU) Tangan Melly menulis surat di atas meja belajar<br />
(DISSOLVE) Melly di depan pagar rumah memberikan surat pada Rita, temannya yang akan pulang kampung. Rita naik angkot. Naik Bus AKDP<br />
(OS) Bunda, semoga Bunda dan Bapak selalu sehat, Amin. Sengaja surat ini Nanda kirim, untuk memberitahu, kalau dua hari lagi nanda harus melunasi uang SPP dan biaya bimbingan skripsi. SPP Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah dan biaya bimbingan skripsi kurang lebih Satu Juta Rupiah. Nanda harap Bunda dan Bapak bisa mengirimnya. Berikan saja pada <a id="more-20"></a>paman. Biar paman yang menstranfer uangnya. Kiranya Bunda dan Bapak tidak terlalu terkejut. Nanda percaya, bisa tamat tahun ini. Sembah sujud ananda, Melly.<br />
II.	EKS. ESTABLISHING SHOT – KEBUN LOBAK – PONDOK-PONDOK PETANI – SIANG<br />
(LA) Ibu Melly bergegas dari dalam pondoknya, menyongsong Rita yang memberikan surat dari Melly. Terjadi basa basi. Rita Berlalu. Ibu Melly membuka surat dan membacanya disusul bapak Melly dari tengah pondok.<br />
(MCU) Bapak Melly terlihat berpikir. Ia mengisyaratkan Sesuatu ke istrinya. Lantas Istrinya setengah berlari menuju pondok di seberang kebunnya.<br />
(ZOOM OUT) Ibu Melly bercakap-cakap dengan pemilik pondok<br />
(BCU) Pemilik pondok meronggoh sakunya dan memberikan beberapa lembar uang ke ibu Melly. Seterusnya ibu Melly bergegas ke pondok berikutnya. Begitu seterusnya.<br />
(ELS) Bapak Melly menjunjung karung berisi lobak menuju rumah toke.<br />
(MCU) Bapak Melly bertransaksi dengan toke<br />
III.	EKS. JALAN SETAPAK – SORE<br />
(LS) Ibu dan Bapak Melly berjalan tergesa menuju rumah paman Melly.<br />
(MCU) Mereka tampak bercakap-cakap. Ibu Melly mnenyerahkan uang ke paman Melly<br />
IV.	EKS. ATM- MALAM<br />
(ESTABLISHING SHOT) paman Melly turun dari sepeda motor dan langsung masuk  ATM.</p>
	<p>IV.	EKS. LOBI PLAZA – MELLY DAN BEBERAPA TEMANNYA- SIANG<br />
(LS) Melly memisahkan diri dari temannya,menuju ATM<br />
(MCU) Di dalam ATM Melly meronggoh tasnya. Agak terburu-buru. Setelah memasukkan kartu dan menekan tombol-tombol transaksi, HP Melly Berdering<br />
Melly: Hallo, Sayang…Iya masih di ATM…Tunggu di tempat<br />
biasa aja, ya… Iya… Bye…<br />
(MCU) Saat memasukan HP ke dalam Tas, isi tas Melly tumpah.<br />
(BCU) Tangan Melly mengemasi alat-alat kosmetiknya, ada deodorant, bedak, lipstik, pelentik bulu mata, tisu, dan sebagainya. Yang terakhir dikemas Melly adalah kondom.<br />
(BCU) Di monitor ATM tertulis: Silakan Tunggu Transaksi anda sedang diproses<br />
(BCU) Tangan mengetuk-ketuk pintu ATM dari luar.<br />
***<br />
S E K I A N</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/skenario-film-pendek/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>BLOK-BLOK DALAM KEPENYAIRAN</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/blok-blok-dalam-kepenyairan/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/blok-blok-dalam-kepenyairan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 05:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/blok-blok-dalam-kepenyairan/</guid>
		<description><![CDATA[	Pengkhianatan Terhadap Humanisme

	Penyair Muda Versus Penyair Tua
Pada kisaran tahun 2005, sekumpulan penyair muda dari Jawa Barat dan Bali berembuk soal bagaimana menciptakan wadah berhimpun dan berdialektika dalam proses kreatif kepenyairan di Indonesia. Latar pemberangkatan mereka adalah kondisi ruang komunikasi dan kreasi penyair “muda” tidak memiliki ruang yang menggembirakan. Para penyair “tua” dipandang masih memerankan hegemoni, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Pengkhianatan Terhadap Humanisme<br />
</em></p>
	<p>Penyair Muda Versus Penyair Tua<br />
Pada kisaran tahun 2005, sekumpulan penyair muda dari Jawa Barat dan Bali berembuk soal bagaimana menciptakan wadah berhimpun dan berdialektika dalam proses kreatif kepenyairan di Indonesia. Latar pemberangkatan mereka adalah kondisi ruang komunikasi dan kreasi penyair “muda” tidak memiliki ruang yang menggembirakan. Para penyair “tua” dipandang masih memerankan hegemoni, cenderung sentralistik dan memainkan standarisasi yang mengekang ruang ekspresi bagi yang muda.<br />
Kemudian, di tahun 2007, <a id="more-19"></a>forum pertemuan ini melebarkan sayap ke Jogjakarta, sekaligus dihadiri penyair muda Padang, Sumatera Barat yang juga mengalami dan mengusung kegelisahan yang sama. Sehingga, di Jogkakarta terbentuk forum Temu Penyair Muda Empat Kota (Bali, Bandung, Jogjakarta, dan Padang). Dari pertemuan ini, terbit buku kumpulan Puisi Herbarium, memuat karya penyair muda keempat kota tersebut dengan merekomendasikan Padang, Sumatera Barat sebagai penyelenggara pertemuan berikutnya.<br />
Salah satu spirit yang dikukuhkan sebagai “jiwa” pertemuan penyair muda ini adalah menciptakan wadah bagi penyair muda melalui komunitas-komunitas. Isu pendukungnya: pemerintah tidak begitu memberi “perhatian” yang wajar. Ditambah lagi dengan penyair “tua” yang mengekslusifkan diri di menara gading. Realitas inilah yang mesti diretas penyair muda. Bagaimana tanpa pemerintah dan para orang “tua”, komunitas penyair muda bisa berbuat. Bahkan, efeknya lebih murni dan bersemangat terhadap gagasan-gagasan baru. Sekalipun tetap dihadang oleh pertanyaan, yang pada kesempatan tersebut dilontarkan Afrizal Malna yang diundang sebagai pembicara: apa sesungguhnya yang kalian perjuangkan, wahai, Penyair Muda? Jika forum seperti pertemuan dan pendokumentasian karya puisi bisa memobilisasi perjuangan tersebut, buktikanlah!</p>
	<p>Catatan dari Temu Penyair Lima Kota, Payakumbuh<br />
	Penyair “muda” Padang, seterusnya (2008) mencoba mewujudkan forum pertemuan tersebut seperti yang diinginkan forum pertemuan sebelumnya, di Jogjakarta. Akan tetapi, ada beberapa konsekuensi teknis yang dialami penyair muda Padang, membuat mereka bersinergi dengan “pemerintah”, yakni Pemerintahan Kota Payakumbuh sebab acara diadakan di Kota Payakumbuh, 27-29 April 2008 dengan tajuk: Temu penyair Lima Kota, ditambah Lampung. Dinas Parwisata Seni dan Budaya dan Dewan Kesenian setempat bahkan, Pemerintahan Kota Kabupaten Siak, Provinsi Riau, ikut mensponsori.<br />
Konsep kerja dan tata laksana semacam ini menuai protes, dipandang tidak sesuai dengan spirit yang dicita-citakan para penggagasnya. Suara protes bergaung dari penyair muda Bandung, seperti Afnaldi Syaiful. Widzar A Gifari, Fina Sato, dan kawan-kawan. Mereka mengeluarkan surat penyataan sikap yang menolak, bahwa sesungguhnya Pertemuan Penyair Lima Kota di Payakumbuh, bukan merupakan kelanjutan dari Pertemuan Penyair Empat Kota di Jogjakarta. Alasan utamanya, karena panitia pelaksana telah menghilangkan kata “muda’ dalam tajuknya. Kemudian, kepanitian justru diketuai oleh penyair “tua”, yaitu Iyut Fitra.<br />
	Iyut Fitra, Gus Tf, dan Yusrizal KW, bila dipandang dari perspektif penggagas acara pertemuan penyair muda adalah sebagai penyair yang terkategori “tua”, tidak mampu menyembunyikan keheranan. Dalam proses kreatif, mereka tidak kenal dengan istilah “tua” dan “muda” ini. Prakarsa mereka untuk kesusksesan pertemuan tersebut lebih banyak didasari oleh sikap kesenian, dimana setiap penyair mendapat ruang yang “wajar”. Tua dan muda cukup masuk kotak etika saja, jangan mengeruhi wilayah kekaryaan. Apalagi Gus Tf sendiri, yang begitu kukuh dengan prinsip sastra itu sastra. Jangan bebani ia dengan sesuatu di luar dirinya, apakah itu sosiologi, politik, bahkan agama.</p>
	<p>Yang Tersisa dari Perseteruan<br />
	Apa yang tersisa dari perjalanan puisi indonesia, setidaknya, melihat yang terjadi dalam rentang lima tahun terakhir? Selain geliat puisi-puisi koran dan beberapa jurnal, muncul penerbitan karya-karya puisi di sejumlah daerah. Selebihnya, perpuisian Indonesia ternyata terjebak dalam polemik “tua” dan “muda. Kekisruhan yang berangkat dari kemiskinan cara memahami keluhuran puisi ini, bermuara pada persaingan, alias perebutan pengaruh di tengah keriuhan pasar. Sejumlah anugerah seperti  Khatulistiwa Literary Awards (KLA) dan Anugerah Pena Kencana menjadi sisi lain dari kehidupan perpuisian Indonesia.<br />
	  Dari rentetan peristiwa puisi dan geliat kerja kepenyairan dalam tulisan ini, terdapat keganjilan yang sesunggunya sudah berada di luar tubuh puisi itu sendiri. Lihat misalnmya, kenapa penyair muda memandang kerjasama dengan pemerintahan merupakan suatu yang tidak dianjurkan, kalau dapat diharamkan? Kenapa peran aktif penyair yang “tertuduh” tua tersebut diasumsikan sebagai kegagalan penyair muda merebut wilayah kreatif yang lebih merdeka? Selain itu, penempatan beberapa kota di belakang penyair menyiratkan kesan, bahwa puisi sudah dikeruhi oleh format kedaerahan. Kepenyairan tampak tidak berbeda dengan Negara, dimana di dalamnya terdapat batasan-bataasn tertorial yang jelas. Terdapat pula para penguasa dan aparatur yang bekerja sesuai sistem yang disepakati dan diakui.<br />
	Jika konsep semacam ini merupakan konsekuensi pasar yang disesaki aspek-aspek manejerial, barangkali terlalu jauh mengatakannya “tidak Boleh”. Akan tetapi, dari sisi yang lain, cara pikir dan tata laksananya masuk ke dalam pendangkalan. Tidak saja makna puisi, tetapi kecerdasan sosial penyair selaku manusia Indonesia tampil dalam wajah skeptis. Seolah-olah, bangsa ini tidak pernah dijajah saja.<br />
	Memang, ada pembenaran dari sejumlah kalangan, tentunya kalangan muda yang kurang sabar melewati proses dirinya sebagai penyair, bahwa forum atau iven puisi tidak memberi ruang bagi penyair muda yang baru muncul di ranah sastra yang msiteirus dan angker tersebut. Tidak pula dipungkiri, kenyataan ini semestinya pula menjadi catatan kritik sastra Indonesia. Cuma saja, seperti disakat Zen Hae, pembicara pada Pertemuan Penyair Lima Kota  di Payakumbuh dengan mempresentasikan makalah berjudul Sajak Sahaya Sengaja Sahaja. Menurutnya, membicarakan kepenyairan dengan titik fokus pada penulis puisi sama saja dengan menggosip. Wacana yang beredar pastilah seputar (how to) bagaimana supaya puisi dimuat di media massa;  bagaimana supaya penyair “tua” sedikit menyingkir, memberi jalan bagi penyair “muda” yang mau lewat; bagaimana supaya Negara punya perhatian pada penulis sastra khususnya puisi, selayak perhatian yang diberikan, misalnya, pada atlit-atlit olahraga?<br />
Bagi Zen Hae, lebih baik bila pembicaraan langsung menuju titik syaraf puisi. Memeriksa eksplorasi atau eksperimentasi sintaksis, kepadatan, atau temuan baru dalam puisi. Hilangkan wacana teritorial, kedaerahan, dan tentu saja isu tua dan muda. Pikiran yang sama juga dilontarkan Rusli Marzuki Saria. Baginya, sulit memberi batasan, siapa yang muda dan tua dalam kepenyairan. Jika pun ada, batasan tersebut akan terbentuk dari pemahaman yang tidak menghormati universitalitas sastra dalam sajak/puisi. Diskusi ini belum lagi membincang dan menyertakan  cita-cita yang terkandung dalam humanisme sastra dalam puisi.<br />
Apa yang terjadi dari Pertemuan Penyair Lima Kota, secara konsep memang tidak lagi mengusung spirit “muda” yang dipahami para penggagasnya. Pertemuan ini merupakan forum yang pertama kali berlangsung dengan Kabupaten Siak, Provinsi Riau sebagai tuan rumah berikutnya. Tetapi, tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari evalusai yang terjadi. Di antaranya, apakah tidak ada untungnya bila penyair berhasil duduk bersisian dengan pemerintah dalam proses sosialisasi puisi? Suatu keniscayaankah, bahwa penyair selalu marjinal, lusuh, dan kumuh; ada penguasa dan yang dikuasai, terjebak dalam batasan teritorial, tua dan muda?<br />
Sementara itu, realitas pasar sastra (prosa dan puisi) belum juga mampu menyentuh dan memeluk realitas. Kalaupun ada, hanya penampakan sekilas, lalu lenyap, karena yang membangkitkannya adalah energi kapitalisme. Yang paling beruntung justru kalangan yang mengerti konsekuensi pasar.<br />
Akhirnya, dalam proses penciptaan karya, pencipta sastra –khusus penyair dalam kasus pertemuan penyeair muda ini- terkurung dan membusuk dalam kotak kecil, memperseterukan sesuatu yang tidak memberi hormat pada kemanusiaan, mendewakan isme dan proposisi yang miskin makna. Sungguh, jika ini terus berlangsung, jelas menyimpan potensi pengkhianatan pada humanisme.<br />
Akibatnya, yang paling utama itu adalah keberadaan sebagai penyair-lawan dari tesis yang dimakalahkan Romi Zarman: segala jadi tiada demi puisi. Keberadaan puisi itu sekarang entah di mana. Mungkin di rumah-rumah kere yang digusur banjir, di tenda pengungsi, atau sedang bertandang ke rumah Wali Kota; ke rumah Tuhan; rumah setan; atau justru melepuh bersama daun ubi di usus duabelas jari dan sedang jadi tinja, lalu dimakan ikan-ikan.<br />
*  *  *<br />
Padang, 2008</p>
	<p><!--more-->
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/blok-blok-dalam-kepenyairan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT TERBUKA KEPADA GUBERNUR SUMBAR</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/kepada-gubernur-sumbar/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/kepada-gubernur-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 04:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>tulisan-tulisan ringan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/kepada-gubernur-sumbar/</guid>
		<description><![CDATA[	SEMOGA Kakanda senantiasa berada di bawah lindungan petunjuk-Nya. Amin. Kenapa saya memanggil Kakanda, sementara orang banyak memanggil Bapak? Ini semata keinginan untuk bisa merasakan kedekatan saja. Suasana hati antara adik dan kakak ketika mengemukakan perasaan dan pikiran menurut hemat saya lebih luas ruangnya dibanding bila seorang anak dan Bapak berdialog. Dengan begitu, bila surat sampai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>SEMOGA Kakanda senantiasa berada di bawah lindungan petunjuk-Nya. Amin. Kenapa saya memanggil Kakanda, sementara orang banyak memanggil Bapak? Ini semata keinginan untuk bisa merasakan kedekatan saja. Suasana hati antara adik dan kakak ketika mengemukakan perasaan dan pikiran menurut hemat saya lebih luas ruangnya dibanding bila seorang anak dan Bapak berdialog. Dengan begitu, bila surat sampai, saya pasti bangga menjadi adik seorang Gubernur. Satu lagi, di masa serba digital ini, berkirim surat sudah jarang terjadi. Seluruh hajat hidup seakan berada di ujung jari. Ingin berkeluh-kesah kepada presiden saja,<a id="more-18"></a> bisa dilakukan dengan mengetik SMS.<br />
Selain itu, ini bukan lagi yang pertama terjadi. Asrul Sani pernah melakukan ini, menulis surat ke Sudiro, Walikota Jakarta dalam Surat KepercayaanTerbuka, (<em>Siasat</em>, 3 Januari 1954) Gelanggang. Terbersit kesimpulan, soal-soal yang melatarbelakangi Asrul Sani menulis surat padaWali Kota Jakarta, setelah puluhan tahun berlalu, ternyata masih ada hingga sekarang. Salah satu di antara persoalan itu ialah kesempatan bercakap-cakap dari hati ke hati dengan Pemimpin Daerah. Kesempatan yang mahal. Kalaupun ada, tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya. Didapatkan pun, harus melewati tata laksana yang disusun protokoler.<br />
Baiklah. Semua itu hanya hal-hal teknis yang bisa saja menjauhkan kita dari beberapa maksud dan tujuan surat ini. Maafkanlah saya bila tuturan surat ini bermain di luar tata krama. Semampunya, saya akan memberikan penghormatan sepenuhnya kepada apa yang tertuang dalam baso jo basi, dan keluhuran pepatah adat kita. Bapak bagi saya santano gunuang tapatan kabuik; rimbo tapatan hujan; bak taluak palabuhan kapa, di sinan sambah mangkonyo tibo.<br />
Kakanda Gubernur yang berhormat. Selanjutnya, saya akan kemukakan beberapa persoalan yang belakangan ini mengusik kepala saya. Namun sebelumnya, sedikit saya paparkan tentang diri saya.<br />
Saya lahir di nagari Sungai Naniang, kecamatan Bukikbarisan, luak limopuluahkoto, bersebelahan dengan kecamatan Gunuangomeh yang beribukota Kototinggi. Sekarang menetap di Padang. Keseharian saya, dekat dengan disiplin kerja budayawan-seniman daerah ini, yakni sebagai penulis lepas. Kadang menulis puisi, kadang cerpen, esai, dan sekarang menulis surat yang isinya paling tidak senada dengan esai.<br />
Beberapa kondisi mengantar saya pada aktivitas tulis-menulis ini: sebuah aktivitas hidup yang misterius. Keberadaan saya seperti peserta terakhir dalam daftar budayawan ataupun seniman yang ada di daerah ini. Menurut saya sebutan seniman, sastrawan, atau budayawan adalah sebutan hiburan. Kenapa? Jika ada yang bertanya pada seorang seniman atau budayawan, apa pekerjaannya, ia akan sulit mengatakan bahwa dirinya adalah budayawan, sastrawan, atau seniman. Dalam data kependudukan pun pernah terjadi beberapa kejadian lucu sekaligus haru. Ada seniman yang mengurus KTP, tetapi tersentak ketika harus membubuhi status pekerjaannya, senimankah, sastrawankah, atau budayawan?<br />
Bagi kawan-kawan yang disebut seniman, sastrawan, atau budayawan itu yang sudah patut menjadi minantu orang, juga akan kelabakan ketika ditanya, apa pekerjaanmu, Nak? Sengaja saya kutip sebuah kejadian. Tahun 2004, Gus Tf, salah seorang sastrawan yang berdomisili di Payakumbuh pernah diundang menerima hadiah dari kerajaan Thailand. Mudah-mudahan Kakanda kenal dengannya. Ia pernah menulis cerpen berjudul Ulat dalam Sepatu. Cerpen itu sangat bagus. Bercerita tentang kantor Gubernur yang kelabu karena dibungkus ulat berlendir yang dari hari ke hari keluar dari sepasang sepatu.<br />
Ketika dilepas oleh para seniman dan budayawan melalui Dewan Kesenian di bawah pimpinan Ivan Adila waktu itu, ia sekaligus membawa mertuanya. Saat memberi sambutan, ia mengatakan pada mertuanya, bahwa hari itu ia sudah dapat jawaban terhadap pertanyaan yang sering disampaikan pada mertuanya: Apa pekerjaan menantu Bapak?<br />
Saya percaya, Kakanda Gubernur punya apresiasi terhadap realitas kehidupan budayawan, sastrawan, atau seniman. Dulu, semasa masih menjabat Bupati, Kakanda pernah merilis album lagu Pop Minang dan penjualan kaset dan CD-nya disumbangkan untuk pendidikan anak-anak terlantar. Seluruh warga Sumatera Barat pun tahu, lagu Bunian Bukik Sambuang tercipta dari napak tilas yang Kakanda lakukan dalam rangkaian perjalanan kepemimpinan. Sebuah pengalaman yang menyiratkan, bahwa perjalanan yang sudah jelas tujuannya pun masih harus melawati jalan dan tuntunan tertentu. Apalagi perjalanan yang belum jelas tujuannya. Alam yang mengajarkan. Alam takambang jadi guru.<br />
Banyak lagi kondisi objektif kehidupan budayawan-seniman yang terluputkan dari prinsip-prinsip eksistensialisme yang kita anut. Di antaranya, saya ingin kemukakan, pergolakan pendapat antara beberapa budayawan-seniman perihal berapa ongkos untuk kegiatan seni-budaya yang dironggoh dari “kocek” APBD? Coba tarik perbandingan antara anggaran olah raga dan anggaran seni-budaya. Kemudian, mari pula sandingkan biaya pelestarian seni-budaya tradisional dengan dana operasional pengukuhan Uda-Uni di provinsi ini? Demikianlah, sisi lain dari realitas kebudayaan yang sedang kita perankan. Belum lagi membahas upaya mengembangkan seni-budaya dalam karya nyata yang refresentatif. Berapa katalog buku yang telah mengabadikan karya-karya seni dan sastra anak-anak nagari pertahun, misalnya? Dan banyak lagi pertanyaan lain.<br />
O ya, Akhir-akhir ini, saya dengar pula, Kakanda sudah menamatkan buku ke tiga dari Tetralogi Andrea Hirata, Endensor. Saya tidak beralasan untuk mengatakan Kakanda tidak punya apresiasi terhadap dunia kreativitas seni, sastra, dan budaya. Ditambah lagi, di pasukuan Kakanda menyandang gelar Datuak Rajo Bagindo. Menjadi mamak dan suri tuladan bagi anak kamanakan sarato urang sanagari. Adat kita menyebutnya: bak cando baringin di tangah koto, ureknyo tampek baselo, batang tampek basanda, daun kajadi payuang panji.<br />
Dari itu semua, saya semakin yakin untuk mengutarakan kegelisahan yang saya idap belakangan ini. Kegelisahan yang saya maksud bermula ketika membaca tulisan budayawan Alwi Karmena: Lidah Profesor Kesleo atau Akalnya? (Padang Ekspres 02/06/08). Alwi Karmena tersentak oleh perkataan Salmadanis seorang Profesor di IAIN Imam Bonjol Padang yang hadir dalam Seminar Internasional 55 Tahun Penyair Taufik Ismail dalam Sastra Indonesia mewakili Rektor. Acara tersebut disiarkan langsung TVRI Sumbar, Rabu 28 Mei 2008.<br />
Beberapa argumentasi Alwi Karmena terarah pada kesimpulan, bahwa tidak pada tempatnya seorang profesor berkata: “…Begitu dalamnya makna puisi yang saya baca, sehingga saya dapat mengatakan- Sebagai penyair Taufiq Ismail sudah ”menuhankan” manusia. Manusia telah menjadi Tuhan dalam kata-kata indah yang tercipta di puisi puisinya. Puisi(Taufiq) sudah setara dengan tauhid, bagaikan ayat ayat suci….” Dari perkataan tersebut, Alwi Karmena berkesimpulan: Tuhan sudah setara dengan manusia. Ayat-ayat suci sudah setara dengan puisi Taufiq Ismail.<br />
Para apresiator diskursus ini, tak putus dirundung heran. Pertanyaan demi pertanyaan bergulir. Diskusi yang berkembang pun menyeruduk ke sana kemari. Sekalipun Salmadanis sudah memberikan pernyataan sebagai hak jawabnya dengan menegaskan bahwa maksud perkataannya itu bukan menyamakan penyair dengan Tuhan atau menyetarakan puisi dengan ayat-ayat suci al-Quran. Tetapi, maksud Salmadanis adalah memberikan penghormatan pada penyair dan puisi yang bekerja dalam siklus keindahan yang sarat nilai ke-Tuhanan dan kemanusiaan (Padang Ekspres, 03/06/08). Tidak ada maksud Salmadanis menyetarakan dengan Tuhan (Allah) seperti juga sudah dinetralisir Yulizal Yunus, salah seorang pembicara pada Seminar Internasional tersebut. Cuma saja, silang pendapat masih berkerumun seperti benang kusut. Belum ditemukan mana ujung dan mana pangkalnya.<br />
Kenapa saya sampaikan ini pada Kakanda? Pertama, dalam tulisan Alwi Kamena tersebut, ia ceritakan pula: Gubernmur Gamawan Fauzi yang bergegas keluar, langsung saya papasi. ”Bagaimana sebenarnya maksud ucapan Salmadanis tadi, Pak Gubernur?” tanya saya. Dengan senyum kecut, Gamawan yang juga seorang seniman itu tampaknya juga kecewa. ”Ambo takuik bakomentar. Babahayo beko kalau jadi polemik…” ujar Gubernur sambil mengecutkan bahu dan masuk ke mobilnya.<br />
Agak keluar dari konteks persoalan yang diapungkan Alwi Karmena atas ketidaksejutuannya terhadap perkataan Salmadanis, saya sesungguhnya menaruh harapan, Kakanda mengeluarkan sepatah dua patah kata pada Alwi Karmena. Sebagai pendingin. Sebagai sebuah upaya menumbuhkan spirit netral dan energi sportif dalam berpendapat. Tatapi, itu tidak terjadi. Saya pun tentu tak bisa menduga apa sebabnya. Kalau cuma karena takut akan ada polemik, saya masih kurang percaya. Sebab, yang saya kenali dari dunia seni, termasuk sasrta, polemik itu, asal konstrukstif, adalah barang halal. Justru, polemik merupakan bahan bakar kreativitas. Basilang kayu di tungku, di situ api mako ka iduik, begitu falsafah Minang mengatakan.<br />
Kembali ke wacana yang diusung Alwi Karmena. Ini bukan kejadian pertama kali. Khazanah ke-Tuhanan (theology) sudah sejak lama masuk ke dalam kajian sastra. Ada al-Hallaj yang dihukum mati karena perkataannya: Ana al-Haq; ana al-Lah. ada Naguib Mahfouz yang lebih memuji iman pelacur daripada iman ulama-ulama Negara dalam cerita rekaannya. Ada Ki Panji Kusmin yang digugat karena cerpen Langit Makin Mendung, bercerita tentang Tuhan yang berkacamata bingkai emas, sehingga HB Jassin masuk terali besi karenanya. Dari Minangkabau, ada AA Navis yang terkenal dengan Robohnya Surau Kami, bercerita tentang Ajo Sidi yang mengibuli kakek garin tentang ulama yang rajin beramal itu ternyata masuk neraka.<br />
Dalam ranah retorika sastra, apalagi puisi, diksi Tuhan keluar-masuk, lalu-lalang, melintas-melintas begitu saja. Tetapi ketika puisi yang menyertakan diksi Tuhan atau membawa-bawa nilai-nilai ke-Tuhanan (spiritual-transedental) tersebut sampai di pikiran apresiatornya, pendapat yang muncul kadang lebih dahsyat dan berbahaya dari maksud dan cita-cita puisi itu sendiri.<br />
Inilah persoalan yang mengusik saya itu, Kakanda. Saya jadi menduga-duga, bekerja sebagai penulis puisi yang strata sosialnya masuk ke dalam folder Budayawan tersebut memiliki karakter super-sensitif. Antara dia dan apresiatornya sering berbeda cara memaknai. Di balik itu semua, keberagaman makna dalam sosialisasi karya puisi malah sangat diharapkan. Namun, apa jadinya ketika puisi dan ke-Tuhanan saling memasuki, sementara kita enggan mencerahinya dengan pikiran?<br />
Kepada Kakanda juga akhirnya dicurahkan. Kehidupan riil budayawan boleh saja “misterius” selamanya. Kemakmuran finansial mereka–apalagi dengan kenaikan BBM-mungkin tidak senyaman elite sosial lainnya. Tapi, sari pati pemikirannya, kenapa pula mesti kita giring ke cara berpikir yang tidak konstruksitf. Yang lebih rumit, kenapa pula mesti tidak mau ambil bagian; cari jalan aman. Sementara, bicara Sumber Daya Manusia, Sumatera Barat sekarang punya apa? Taufik Ismail, putra kelahiran Sumatera Barat itu adalah produk: karatang madang di ulu/babauh babungo balun/ka rantau dagang daulu/di kampuang paguo balun.<br />
Terakhir. Ini semua tercurah, karena saya menaruh harapan, kiranya kompleksitas manejerial seni-budaya daerah ini–apakah status finansial budayawan-seniman atau pengelolaan aspek sosialisasi seni-budaya-di masa Kakanda menjabat tercatat dalam sejarah sebagai performance yang tertata rapi dan dikenang sepanjang masa. Amin.</p>
	<p>Terima Kasih dan Salam<br />
Adinda,<br />
Zelfeni Wimra      </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/06/06/kepada-gubernur-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Bau Asap Itu, Ati</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/05/06/perempuan-bau-asap-itu-ati/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/05/06/perempuan-bau-asap-itu-ati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 14:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>puisi-puisi</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/05/06/perempuan-bau-asap-itu-ati/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan Bau Asap Itu, Ati]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>kudengar lagi dekak batu gilingan<br />
kepulan asap di tungku membungkus baju kurungmu<br />
pada subuh yang belum usai<br />
kuraba tonggak tua rumah gadang yang berbulu digaruk kucing<br />
di situ puisiku pertama kali menyerpih<br />
melekat sebagai debu yang mengambang di langit-langit pagu<br />
dapurmu</p>
	<p>kudengar lagi sijingkat atah di ujung tampian<br />
dedak yang berdenging di lantai tanah rumah kita<br />
dan matamu menggambar sawah berjenjang<br />
batang-batang padi menggembung seperti pantau yang hamil<br />
dari sana gabah bersembulan<br />
mengulai dari tangkai<br />
seperti anak-anakmu, ati<br />
ada yang bernas ada yang hampa</p>
	<p>kudengar lagi kecimpung tawas dalam kuali<br />
sore itu aku pulang membawa sejinjing belut dan anak gurami<br />
yang kukail di batang air sialang<br />
“kita goreng sama peria atau asam pedas saja?” tawarmu</p>
	<p>kudengar lagi, hujan batu berderu di langit kampung<br />
dentangnya menyerang loteng bilikku<br />
subuh seperti mau runtuh<br />
ke dalam secerek air yang telah kau panaskan<br />
lalu secangkir kahwa mengepul<br />
“menjelang berangkat, minumlah<br />
seperti bangau betina sebelum meninggalkan kubangan,” ucapmu<br />
dari anak jenjang pertama<br />
aku turun mengayun lambai<br />
di laman<br />
di tampuk embun<br />
puisiku karam<br />
tersangkut pada kelopak kembang tiga bulan</p>
	<p>kudengar lagi kicau pipik tuai<br />
musim bertanam yang riang<br />
lalang-lalang mengungsi ke belukar mintalak<br />
sebab sawah-sawah digenang<br />
ke sana aku mandi-mandi<br />
memakai baju tut wuri handayani<br />
“cepat pulang,” sesalmu<br />
aku pun berlari<br />
percikan lumpur melewati kepala<br />
ingat kambing yang belum dikeluarkan<br />
ingat kulit manis yang belum diangkat dari jemuran<br />
ingat buku bergaris petak dan pr matematika<br />
juga karangan singkat<br />
yang harus dirangkai dengan huruf tegak bersambung<br />
tapi puisiku berdetak di roda bendi<br />
seakan ada yang meningkah rabana<br />
menuntun suara gadis penyanyi kasidah</p>
	<p>batinku melulung meniti bansi para bujang<br />
yang kesepian di dangau ladang</p>
	<p>aku dengar lagi gesek mata pisau penetek mayang nira<br />
diasah bapak di batu gerinda<br />
dan gerahamku selalu ngilu karenanya<br />
sengilu ketika akhirnya bapak berperangai musang<br />
menerkam-hilang<br />
dari kandang ke kandangrumah gadang</p>
	<p>kudengar lagi gerutumu di balik pintu<br />
tentang cengkeh yang terjual murah<br />
harga racun padi yang menanjak<br />
dan bapak yang tak pulang-pulang</p>
	<p>selalu kudengar semua, ati<br />
sembari mengintipmu menangis di balik kelambu dipan<br />
selalu<br />
di pelukmu aku ingin rubuh<br />
menghirup tubuhmu yang bau asap<br />
meski dari dari ranah yang tak terdekap<br />
di mana aku kini tersekap</p>
	<p>2008
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/05/06/perempuan-bau-asap-itu-ati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>naskah film dokumenter alek perkawinan minang rang pasisia</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/naskah-film-dokumenter-alek-perkawinan-minang-rang-pasisia/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/naskah-film-dokumenter-alek-perkawinan-minang-rang-pasisia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 21:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>naskah pertunjukan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/naskah-film-dokumenter-alek-perkawinan-minang-rang-pasisia/</guid>
		<description><![CDATA[	
A
	FADE IN
	ESTABLISHING SHOT -  ABSTRAK ALEK RANG PASISIA (ANAK DARO – MARAPULAI DI DALAM PROSESI ALEK) – MUSIK TRADISI + MODERN YANG SEMARAK –TITLE:
	ALEK PERKAWINAN MINANG RANG PASISIA
	B
DESKRIPSI LOKASI
	FADE IN
	ESTABLISHING SHOT – KEELOKAN ALAM
PESISIR SELATAN
	NARATOR:
Kita sudah berada di salah satu nagari rang Pasisia yakni Nagari Salido. Nagari sedang rami-rami dalam alek perkawinan Minang Rang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
A</p>
	<p>FADE IN</p>
	<p>ESTABLISHING SHOT -  ABSTRAK ALEK RANG PASISIA (ANAK DARO – MARAPULAI DI DALAM PROSESI ALEK) – MUSIK TRADISI + MODERN YANG SEMARAK –TITLE:</p>
	<p>ALEK PERKAWINAN MINANG RANG PASISIA</p>
	<p>B<br />
DESKRIPSI LOKASI</p>
	<p>FADE IN</p>
	<p>ESTABLISHING SHOT – KEELOKAN ALAM<br />
PESISIR SELATAN</p>
	<p>NARATOR:<br />
Kita sudah berada di salah satu nagari rang Pasisia yakni <a id="more-15"></a>Nagari Salido. Nagari sedang rami-rami dalam alek perkawinan Minang Rang Pasisia, yakni upacara adat perkawinan dr. Mella Berti Adriyani  putri pasangan H. Adril Dt.Bandaro Kuning (Sekdakab Pesisir Selatan) dan Hj. Sri Asminarti, SPd. Puti Nilam Sari dan dr. Ricky Awal putra dari pasang Amly Khan dan Masdar. </p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR DARI NAGARI SALIDO YANG BARALEK DAN GAMBAR SALIDO DARI UDARA</p>
	<p>Salido ini satu di antara 37 nagari terletak di kecamatan IV Jurai Pesisir Selatan (Pasisia), Sumatera Barat. Kabupaten Pesisir Selatan ini 77 km dari Padang ibu Provinsi Sumatera Barat. Alamnya indah, lihatlah dari udara ke utara tampak ranah Salido ke selatan tampak kota Painan. Di Pasisia juga ada kawasan paradiso village di Mandeh Resort yang disebut manca Negara sebagai sorga dari selatan. Negeri ini menyimpan kekayaan  budaya dan tradisi yang terus diwarisi dari masa ke masa. Kegigihan, ketekunan, dan komitmen masyarakatnya memelihara budaya dan  tradisi, dapat dilihat dari sejumlah ritual adat yang didukung penuh oleh pemerintahan daerahnya. </p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BARALEK MENYUSUL PANORAMA ALAM PASISIA -  PROSES ALEK – MAMINANG</p>
	<p>BABAK  I<br />
MEMINANG</p>
	<p>FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT- SUASANA MANAPIAK BANDUA<br />
NARATOR:<br />
Kita sedang menyaksikan upacara adat proses pertama perkawinan Minang Rang Pasisia disebut Manapiak Bandua istilah lain maanta tunangan atau dalam Islam disebut Meminang. Manapiak Bandua dilakukan sesudah<!--more--> ada kesepakatan adat (mungkin jo patuik) dan tinjau meninjau yang biasanya dilakukan oleh pihak ketiga (setangkai) antara pihak calon mepelai lelaki dan perempuan.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA</p>
	<p>NARATOR:<br />
Prosesi (iring-iringan) Manapiak Bandua dimulai dengan kedatangan rombongan dari pihak calon pengantin wanita -anak daro-  ke rumah calon pengantin pria (marapulai) di Bukittinggi. Rombongan meminang ini disuruh sarayo niniak mamak anak daro untuk meminang calon penganten lelaki. Unsur anggota rombongan: Mandeh – bapak, Mamak,  Sumando – pasumandan (sumandan),  Bako. Kedatangan rombongan ini biasanya  membawa barang bawaan seperti kue, nasi lamak baluo, pisang dan sebagainya.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA; RUMAH ORANG TUA CALON PENGANTIN PRIA</p>
	<p>NARATOR:<br />
Ini suasana di rumah calon mintuo -keluarga calon marapulai- yang akan dipinang (yang banduanya akan ditapiak). Kedatangan pihak anak daro ditunggu tuan rumah (rumah calon mintuo), yang unsur anggota penunggu sama dengan rombongan yang datang (prosesi pihak anak daro). Di rumah ini dua belah pihak tagak samo tinggi/ duduk samo randah untuk beruding mencari kata mufakat mangikek janji (merensmikan pertunanganan), mancari hari nan elok kutiko nan bayiak untuk melangsungkan alek.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA</p>
	<p>NARATOR:<br />
Sumando (setelah baiyo dengan mamak) pihak calon anak daro menyampaikan kato kepada sumando pihak calon marapulai, apa sudah boleh menyampaikan tujuan maksud. </p>
	<p>Kalau sudah babarih (diberi garisan) oleh mamak kedua belah pihak, baru pihak anak daro menyampaikan maksud hati hendak menjodohkan anak kemenakan perempuan mereka dengan anak kemenakan dari pihak tuan rumah. Kemudian, kedua belah pihak berbincang dalam bentuk pasambahan kato bajawek, gayuang basambuik antara urang sumando kedua belah pihak.</p>
	<p>Rundingan putuih, kedua belah pihak disuguhi makan minum tanda naik rumah dapek ayia/ naik batang dapek tindawan. Kemudian kedua belah pihak maurak selo (bubar, menuju rumah masing-masing).</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA</p>
	<p>Beberapa hari setelah rundingan putus di rumah calon penganten pria, pihak keluarga marapulai mendatangi keluarga anak daro pula menyatakan menerima maksud hati kedatangan anak daro meminang beberapa hari yang lalu. Pada kesempatan itu dimatangkan rencana acara pernikahan atau manakok hari kabaralek, macari kutiko nan elok medan nan bayiak.</p>
	<p>BABAK II</p>
	<p>ACARA MINUM KOPI (BAIYO-IYO)</p>
	<p>FADE IN</p>
	<p>ESTABLISHING SHOT<br />
 – RUMAH CALON PENGANTIN WANITA</p>
	<p>NARATOR:<br />
Acara baiyo-iyo (bermusyawarah) disebut juga minum kopi. Acara ini forum ninik mamak baiyo-iyo pada alek ini direkam di rumah anak daro. Baiyo-iyo juga di rumah pihak marapulai, atau di salah satu pihak (di rumah anak daro saja) dihadiri pihak anak daro dan marapulai. Intinya bermusyawarah menentukan gadang alek (besarnya pesta) dan siang sigi (checking terakhir) karajo nan kadi kakok (pekerjaan yang akan dilakukan dan pembagian tugas).</p>
	<p>CUT TO:<br />
SUBJECTIVE ZOOM:<br />
Unsur pokok hadir dalam minum kopi: mamak nagari, mamak pangka, mamak bako, mamak marapulai serta mandeh-bapak, sumando-sumandan termasuk urang tuo dan urang mudo alek kasadonyo.</p>
	<p>NARATOR:<br />
Mamak nagari, mamak pangka, mamak bako, mamak marapulai serta mandeh-bapak, sumando-sumandan termasuk urang tuo dan urang mudo alek kasadonyo baiyo-iyo. Disaksikan mamak membuka paretongan, dimulai dari siang sigi (check qourum) sasudah sumando manatiang meletakan peti dan carano di depan penghulu (kepala) suku menghormati tuah dan kebesarannya. Paretongan menentukan jenis alek: alek ketek (patah paki picik kapareh) atau alek (intang) gadang (alek salingka alam) seperti alek yang sedang disaksikan ini. Juga paretongan tentang tata cara alek (rangkaian upacara adat/ resepsi), mulai dari persiapan-persiapan alek, pembagian petugas dan kerja (karajo bauntuak pegang bamasiang) dalam alek.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA.</p>
	<p>NARATOR:<br />
Sasudah kopi dicicipi, diperlihatkan semangat gotong royong ninik mamak dan semua hadirin dalam bentuk menghimpun dana sebagai bantuan untuk membiayai alek yang diselenggarakan silang nan bapangka/ karajo nan bapokok.</p>
	<p>BABAK III<br />
MAANTA SIRIAH</p>
	<p>FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT - PIHAK KELUARGA MARAPULAI DATANG KE RUMAH ANAK DARO </p>
	<p>NARATOR:<br />
Iring-iringan pengantin pria datang ke rumah anak daro, manta sirih (mengantarkan sirih). Siriah disusun di atas dulang disertai bawaan sapatagak (satu stel) pakaian untuk anak daro, serta alat-alat untuk berhias, alat rumah tangga lainnya seperti sprei (alas tempat tidur), alat-alat makan dan kalau keluarga mampu membawa sejumlah emas dan sejenisnya. Juga membawa pagagat (bahan-bahan dapur) seperti lado (cabe), garam, bawang, ikan, ayam, daging, sayur-sayuran dan buah-buahan. Semua bawaan ini merupakan makna pernyataan ikhlas dari keluarga marapulai mambantu anak daro: “putiah kape dapek diliek, putiah hati bakaadaan” (putih kapas dapat dilihat, bersih hati sesuai dengan keadaan). Maanta sirih, simbol kebersamaan orang Minang.<br />
CUT TO:<br />
KE GAMBAR MALAM BAINAI<br />
DILATARI  LAGU<br />
NARATOR:<br />
Malam sesudah manta siriah malamnya di rumah anak daro dilangsungkan acara malam bainai. Prosesinya dimulai dengan mendudukkan anak daro di pelaminan. Inai disediakan keluarga anak daro diantakan bako. Inai disajikan di baki ditempatkan di depan anak daro yang diapit orang tua dan boko. Inai bawaan dari bako  dan inai bawaan kerabat datang silih berganti. Inai dipasang pada kuku 10 jari tangan anak daro oleh kedua orang tua, bako dan kerabat. Bersamaan dengan inai dipasang, berkumandang syair tradisi Minang pada malam bainai diwarnai dengan pekikan seruling.<br />
FLASH BACK (DISSOLVE TO):<br />
KENANGAN ORANG TUA MENGASUH –MEMBESARKAN ANAK DARO. DULU BAYI, KINI TELAH BAINAI.</p>
	<p>BABAK IV<br />
BABAKO DAN MAMBAKOI<br />
FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT – RUMAH ANAK DARO – RUMAH BAKO DAN RUMAH YANG MAMBAKOI<br />
NARATOR:<br />
Babako dilaksanakan oleh keluarga ayah dari calon anak daro dan marapulai. Nampak alek babako anak daro suasana keakraban, kasih sayang dan mendapat restu dari pihak bako, yaitu keluarga ayah pihak penganten (anak pisang dari bako). Babako dalam filosofi adat Minang, ayah berhutang pada anak bako membayarkan kepada anak pisangnya.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA; SUASANA RUMAH BAKO</p>
	<p>NARATOR:<br />
Setelah zuhur, anak daro telah berada di rumah bakonya bersama rombongan keluarga. Induak Bako (keluarga ayah) dan rombongannya yang maarak anak pisangnya (anak daro atau marapulai) ke rumah keluarga anak daro atau marapulai, sebelumnya berkumpul pada salah satu rumah keluarga dekat ayah untuk didandani dengan pakaian pengantin.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR MAARAK ANAK DARO</p>
	<p>NARATOR:<br />
Anak daro diarak rombongan bako, disemaraki dengan talempong dan gendang sarunai dan barang bawaan bako ke rumah anak daro atau marapulai. Barang bawaan tersebut berupa dulang berisi kado bako atau paragiah bako seperti kain panjang, sarung, beras, ada pula emas, ternak sapi, kerbau, kambing atau nasi kunyit, limau harum sesuai kemampuan bako.<br />
CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERIKUTNYA; RUMAH ANAK DARO </p>
	<p>NARATOR:<br />
Di kediamannya, anak pisang (anak daro) diasapi dengan kemenyan dan dilimaui dengan limau harum yang dibawa bako tadi. Asap kemenyan dan limau harum adalah simbol kasih sayang bako, membersihkan diri lahir batin si anak daro, motivasi (dorongan) agar mental kuat sebelum melangsungkan pernikahan, sekaligus do’a selamat untuk pengantin.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR MEMBAKOI </p>
	<p>Iring-iringan mambakoi dari Painan sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.</p>
	<p>Iring-iringan mambakoi dari Tarusan sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.</p>
	<p>Iring-iringan mambakoi dari Bayang sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.</p>
	<p>Iring-iringan mambakoi dari Lumpo sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.</p>
	<p>Iring-iringan mambakoi dari Bungo Pasang sebauh keluarga yang sesuku dengan ayah anak daro.</p>
	<p>BABAK  V<br />
MAMANGGIA MARAPULAI</p>
	<p>FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT – RUMAH ANAK DARO </p>
	<p>NARATOR:<br />
Mamanggia marapulai. Ada juga manjapuik marapulai. Mamanggia marapulai dilakukan di waktu malam sesudah manta siriah, untuk memasuki upacara pernikahan sesudah subuh. Manjapuik marapulai dilakukan untuk basandiang di palaminan sesudah akad nikah. Tayangan susasana upacara melepas rombongan mamanggia di rumah anak daro, yang tasuruh tasarayo ninik mamak anak daro.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE SUASANA MAMANGGIA DI RUMAH MARAPULAI<br />
DAN IRING-IRINGAN BADAMPIANG</p>
	<p>NARATOR:<br />
Di malam menjelang pernikahan, marapulai dipanggia oleh pihak keluarga anak daro dan dibawa ke rumahnya. Rombongan penjemput beranggotakan urang sumando - sumandan, mandeh bapak, mamak, urang mudo, 10 - 15 orang. Rombongan penjemput membawa syarat-syarat yang disepakati hasil rundingan sebelumnya. Sebelum marapulai dibawa, ada dilakukan perundingan yang kadang a lot (panas) sampai subuh antara kedua belah pihak (yang menjemput dan yang dijemput). Setelah rundingan putus, sembahyang subuh, marapulai berpakaian jas lengkap memakai peci. Marapulai turun rumah orang tuanya dibawa oleh rombongan anak daro. Iring-iringan (prosesi) menuju rumah anak daro berdamping (berdendang, mendendangkan nasib lelaki minang, kecil diasuh orang tua, besar ke rumah isteri). </p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BADAMPIANG</p>
	<p>NARATOR:<br />
Dampiang mengisi sepi sesudah subuh diikuti sorak sorai anggota pengiring dan inang pengasuh marapaulai. Yang badampiang adalah semua anggota prosesi yang pandai berdampiang bersahut-sahutan. Badampiang adakalanya tanpa musik dan adakalanya diiringi dengan bunyi-bunyian pupuik, talempong yang diselingi dengan pantun-pantun yang menyatakan betapa sedih bercampur gembira keluarga calon penganten pria melepas anaknya masuk kekeluarga anak daro. Dampiang diisi dengan pantun-pantun jenaka pedampiang, biasanya para anak muda. Tujuan dampiang menggoda marapulai yang keluarganya sedih melepas anaknya marapulai memasuki hidup baru. Pantun dampiang didendang dengan cara bersahut-sahutan dan diujung pantun disorak-soraikan anggota rombongan yang lain. </p>
	<p>CUT TO:<br />
KE SUASANA RUMAH ANAK DARO YANG MERNUNGGU ROMBONGAN DAMPIANG</p>
	<p>NARATOR:<br />
Rombongan dampiang mengiringi marapulai sampai di halaman rumah disambut dengan siriah (disapo dengan sirih). Ada pidato siriah pinang. Kemudian diikuti pidato keluarga yang mengantar marapulai minta izin naik rumah gadang untuk menikah. Izin diberi ninik mama anak daro menaiki rumah gadang. Marapulai dipersilahkan naik sebelumnya membasuah kaki pada adat lama.<br />
Marapulai duduk sesuai dengan tempat yang sudah disediakan disertai orang tua dan pengantarnya (inang pengasuhnya). Anak daro dan orang tua serta inang pengasuhnya duduk di tempat terpisah, tidak boleh dipersandingkan sebelum menikah. Upacara pernikahan dimulai kombinasi alek tradisi dan modern. Ninik mamak dan bako marapulai dan anak daro berunding. Rundingan putus acara diserahkan kepada pembawa acara upacara pernikahan, dimulai dari membaca ayat al-Qur’an, ayah sebagai wali minta izin anak gadisnya untuk dinikahkan, dalam suasana haru izin diberikan anak gadisnya, selanjutnya upcara sakral ijab dan qabul diserahkan kepada PPN (Petugas Pencatat Nikah). PPN duduk bersanding dengan marapulai, ayah anak daro/ wali dudu badampingan dengan anak gadisnya yang akan dinikahkan, ujung dan pangkal duduk dua saksi yang adil. Suasana haru mewarnai ijab dan kabul.</p>
	<p>BABAK VI<br />
ACARA AQAD NIKAH; IJAB QABUL</p>
	<p>FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT – KEDUA PENGANTIN, WALI NIKAH, PPN, SAKSI NIKAH – LAFADZ  IJAB QABUL  -  DO&#8217;A - UCAPAN SELAMAT</p>
	<p>NARATOR:<br />
Prosesi aqad nikah dilangsungkan sebagaimana biasa, sesuai syariat Islam. Ini merupakan pengejawantahan dari ABS-SBK (Adat Basandi Syara&#8217;, Syara&#8217; Basandi Kitabullah) dan SMAM (Syara&#8217; Mangato, Adat Mamakai).</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE SUASANA BASANDIANG DI PALAMINAN</p>
	<p>NARATOR:<br />
Ini saat basandiang di Palaminan. Marapulai dijapuik pihak anak daro. sesudah melakukan akad nikah untuk basandiang di rumah anak daro. Anak daro dan marapulai menanti tamu alek salingka alam diwarnai musik di halaman rumah.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE SUASANA MAURAK SANGGUA GADANG<br />
NARATOR:<br />
Di rumahnya, anak daro dalam pakaian penganten duduk di ranjang. Marapulai dan keluarga datang dijemput dengan carano. Mamak, urang sumando-sumandan, mandeh bapak, bako, dan para undangan (alek) duduk sehamparan. Paretongan atau musyawarah dimulai alek kepada si pangka urang sumando dari sumando ke mamak, bako dan sipangka.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR ANAK DARO</p>
	<p>NARATOR:<br />
Maurak sanggua gadang atau mambuka sunting. Bunga penganten anak daro di sanggua gadang dibuka, tanda upacara membuka/ maurak sanggua gadang dimulai. Adok dan dendang silaju bersahutan. Anak daro diminta memakan nasi si sampek, manusuak singgang ayam. Manusuk singgan ayam oleh penganten merupakan peramalan nasib penganten ala alek perkawinan Minang Rang Pasisia. Suasana diperkuat penari kain. Hingga pada tengah malam, salah seorang penari kain merenggut tali tirai dan putus, tanda upacara selesai.</p>
	<p>OFF SCENE (O.S)<br />
PIDATO PENUTUP ALEK</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR RESEPSI DI GEDUNG WANITA PADANG</p>
	<p>NARATOR:<br />
Kedatangan tamu disambut keindahan eksterior gedung penuh karangan bunga. Interior semarak dengan dekorasi yang beragam. Hadir Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi Dt. Rajo nan Sati, memberi sambutan atas nama alek (tamu) disambut Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit. Darizal Basir Dt. Rajo nan Sati (mantan Bupati Pesisir Selatan) datang tidak sebagai tamu memberi sambutan atas nama keluarga. Prosesi penganten (anak daro marapulai) di sambut tari pasambambahan dan pidato siriah pinang. </p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR PEMBUKAAN RESEPSI</p>
	<p>Terlihat protokol dari satampang baniah membuka acara. Pembacaan ayat al-Qur’an. Sepatah kata sipangka disampaikan Bapak Darizal Basir Dt. Rajo nan Sati. Sambutan alek oleh Bapak gamawan Fauzi Dt. Rajo nan Sati. Pembacaan do&#8217;a. Penampilan kesenian. Diteruskan dengan makan bersama, pemberian ucapan selamat pada anak daro dan marapulai beserta keluarga. Kebahagiaan ini diabadikan dengan berfoto bersama.</p>
	<p>BABAK VII<br />
MANJALANG MINTUO</p>
	<p>FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT -  RUMAH ANAK DARO – LABAUH NAN PANJANG - RUMAH MARAPULAI</p>
	<p>NARATOR:<br />
Acara manjalang mintuo dilakukan keesokan hari setelah aqad nikah. Manjalang mintuo adalah ajang perkenalan selanjutnya antara anak daro dengan pihak keluarga marapulai. Juga momentum pemberitahuan kepada orang sekampung bahwa pasangan ini sudah resmi menjadi suami isteri.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR MARAPULAI DAN ANAK DARO DIARAK DENGAN IRINGAN TALEMPONG DAN PUPUIK SARUNAI. ROMBONGAN MELALUI LABUAH NAN PANJANG MENUJU RUMAH KELUARGA MARAPULAI.</p>
	<p>NARATOR:<br />
Rombongan manjalang mintuo membawa barang bawaan berupa kue-kue, jamba dengan isi bermacam sambal seperti rendang daging, ikan, ayam, telur, sayur-sayuran, buah-buahan, juga nasi kunyit dan ayam panggang.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE SUASANA RUMAH MINTUO (KELUARGA MARAPULAI)<br />
NARATOR:<br />
Inti acara manjalang mintuo adalah do’a selamatan dan berkenalan dengan seluruh keluarga besar marapulai.<br />
OFF SCENE (O.S)<br />
PIDATO ADAT MANJALANG MINTUO, SEBELUM ANAK DARO PULANG.</p>
	<p>BABAK VIII<br />
JAPUIK TIGO HARI<br />
FADE IN<br />
ESTABLISHING SHOT – RUMAH MARAPULAI<br />
NARATOR:<br />
Tiga hari setelah akad nikah, dilakukan acara manjapuik anak daro. Acara japuik tigo hari anak daro itu dilakukan oleh pihak marapulai untuk bermalam di rumah keluarga marapulai (mintuo anak daro). Tujuannya, berkenalan lebih lanjut dengan keluarga, mengenal lebih dekat serta menjalin silaturahim. Karena yang kawin itu sebenarnya adalah jalinan keluarga besar dua belah pihak.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR MANJALANG MAMAK – BAKO DARI MANDEH-BAPAK – SUMANDO-SUMANDAN</p>
	<p>NARATOR:<br />
Rangkaian acara susulan di antaranya dilakukan manjalang mamak, bako,  dari mandeh bapak (sumando-sumandan) pihak anak daro dan marapulai. Tujuannya untuk saling mengenal lebih dekat dan akrab kedua keluarga besar yang baru saja bersatu melalui pernikahan anggota keluarga.</p>
	<p>CUT TO:<br />
KE GAMBAR BERBULAN MADU KE BALI </p>
	<p>NARATOR:<br />
Penganten menikmati panorama bali dan memadu kasih di hari-hari pertama pasca pernikahan. </p>
	<p>FLASH BACK (DISSOLVE TO):<br />
KENANGAN PENGANTEN MASA SEKOLAH DAN KULIAH, PERTUNANGANAN DAN PERNIKAH – KINI KEDUANYA PEMILIK DUNIA KEBAHAGIAAN. </p>
	<p>FADE OUT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/naskah-film-dokumenter-alek-perkawinan-minang-rang-pasisia/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>ZIARAH TABUNG-TABUNG PUISI</title>
		<link>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/ziarah-tabung-tabung-puisi/</link>
		<comments>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/ziarah-tabung-tabung-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 21:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zelfeni Wimra</dc:creator>
		
	<category>naskah pertunjukan</category>
		<guid>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/ziarah-tabung-tabung-puisi/</guid>
		<description><![CDATA[	
(S e b u a h  N a s k a h  D r a m a  K o l o s a l)
	FADE IN:
	001
RUANG VERTIKAL PANGGUNG (SISI PALING DEPAN) DITUTUPI PLASTIK WARNA BIRU. DASAR PANGGUNG JUGA TERTUTUPI OLEH KAIN (PARASUT). SEHINGGA, SELURUH PEMANDANGAN DI ATAS PANGGUNG TAMPAK SEPERTI DASAR DANAU.
	002
BEBERAPA PENYELAM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
(S e b u a h  N a s k a h  D r a m a  K o l o s a l)</p>
	<p>FADE IN:</p>
	<p>001<br />
RUANG VERTIKAL PANGGUNG (SISI PALING DEPAN) DITUTUPI PLASTIK WARNA BIRU. DASAR PANGGUNG JUGA TERTUTUPI OLEH KAIN (PARASUT). SEHINGGA, SELURUH PEMANDANGAN DI ATAS PANGGUNG TAMPAK SEPERTI DASAR DANAU.</p>
	<p>002<br />
BEBERAPA PENYELAM MELINTAS. BERAKTIVITAS LAYAKNYA PARA TURIS BAHARI YANG GEMAR MEMERIKSA KEINDAHAN ATAU MENELITI ANEKA TANAMAN DI DASAR DANAU. SEORANG PENYELAM BERGELANTUNGAN PADA CECABANG POHON. GELEMBUNG AIR YANG MERANGKAK KE PERMUKAAN, MENIMBULKAN SUARA-SUARA YANG KHAS. CAHAYA DAN MUSIK MENGGIGIL. TERDENGAR PUISI, DIBACAKAN AMNAK-ANAK SECARA MARATON:<br />
PUISI	: Dada di cuaca penghabisan. Bulan penat tak terurus. Aku dengar riuh tepuk tangan. Ibu dibalut gigil. Terguling di beranda gosong. Mengurut kekalahan. Jangkirnya digusur tungkai-tungkai sore. Tanpa alasan. Berselisih. Melindang keliar jejak orang-orang pindah. Merangkul rumah ke tepi luka<a id="more-14"></a> hari. Bersilih salam pamit.<br />
Langit tak bermusim. Menyuling mata hujan jadi riam. Sesendu lambai anak-anak batang kampar. Menghilirkan remah gergaji ke muara lengang. Sementara ini kampung hanya sarang semut, menara tanah yang segera rubuh.<br />
SEORANG IBU MELINTAS. DI BAHUNYA YANG TERIKAT RANTAI TERGANTUNG ANEKA PERKAKAS RUMAH<br />
IBU	: Apa yang kita dapat dari perpisahan? S$elain kesendirian, cuma gelimang lumpur rindu. Lad$ang-ladang lumat diparut beling tahta. Juga, barangkali, deret catatan harian rumah tanpa halaman. Hiruk-pikuk tak berkesudahan menggelinjang pada partitur tanah yang lantak. Rengek-ratap ganti rugi bagai lengking sirene di gerbang pekan hilang sejarah. Hingga aku lupa usia beringsut ke pinggir nisan. Tidak mengerti, Justru kota yang menyubur bagai gagang pare di persemaian. Coba kaparkan badan. Picingkan mata. Bukan hanya aku, para penakluk hutan melayu juga berkubur di sini. Di sisi batang mangilang, Alamat doa bila kelak kau berziarah<br />
SUARA IBU MENGIANG DAN BERSIPONGANG. DISAMBUNG PUISI ANAK-ANAK YANG DIBACA SECARA MARATON.<br />
PUISI	: Bagai gandarokam kami tumbuh. Berseteru dengan duri semambu. Mencincang angka-angka yang jumpalitan, berebut selara pada tanah yang sekarat. Waktu malah memisau. Meruncing sembilu bakau tanjung pauh. Terus. Kami bertumbangan. Tanpa hikayat mengarung gerenek Batang Samo. Segala gagau terbenam, Ibu. Rumah, taman bunga, dan halaman mesjid perempatan aspal melepuh di kedalaman angkuh. Kami temukan sisa kanak-kanak kami. Pongang sorak petak umpet. Anak lanang menari Melagukan barzanji; berlari menakali capung dengan lidi. Atau mandi-mandi bersama dedaun yang diluruhkan angin khatulistiwa. Lalu lapuk di ceruk keranda yang berlesatan ke seberang jelujur menara tanah.<br />
DARI KEJAUHAN, BAYANGAN SEORANG IBU MEMBIAS<br />
IBU	: sejenak pun, tinjaulah jendela itu. Ada hamparan luas menunggu lentera penyuluh sobekan rahasia yang menyala di nadimu. Menjelang padam, carilah Hang Tuah, Nak!<br />
PUISI	: Ke sebuah padang, kami berburu. Melanglang harapan. Tak ada kata pulang sebelum busur menggeleparkan buruan. Tapi bagaimana mencecah onak sunyi, merunut belukar risau? selalu ranah koto panjang ngangkang di udara. Layar tak berhingga memajang bukit berbaris. Sungai-sungai kecil berjabat di perut rawa. Seketika, cericit burung pemakan buah kayu meningkahi dingin pagi. Padahal, hanya riwayat pahang tiang-tiang listrik yang kuyup dipeluk karat, Gamang menunjuk langit. Rumah sekolah membangkai. Getah para menjelma rawa. Bagai bubur berbidang sawah gugur. Sawit mati muda, membusuk di rusuk kota yang membentang jeram peradaban. Licin waktu tak terjinakkan. Kami gembalakan hati. Tapi ciut jua serupa pori-pori lengan peneruka. mengeras di hulu cangkul. Bertahun menampar sekawanan humus. Pada gulungan tali kerbau, di serajut rumput, dan onggokan tinja kambing, nasib mereka memilin tak terkemasi. Jika sore merah inai meretas langit, burung-burung pemakan buah pulang ke sarang, mereka terseok di pelipis jalan. Menggendong sibiran kayu. Menanti api. Lalu siapa saja boleh jadi tungku. Jadi garam atau kuali di mana perjalanan dididihkan. Ndeh oi, berapa kilometer lagi harus kutempuh nyeri, Hingga ziarah ini sampai ke puncak, Ibu. Lidahku meretak pahit menuang doa ke banjaran nisan nan luput dari hitungan. Tak ada lagi rumah bersendi batu. hanya menara tanah yang telah lama luluh. Melunau di hamparan melayu.<br />
SENYAP.</p>
	<p>003<br />
PARA PENYELAM LALU LALANG. TERDENGAR NARASI-NARASI TAK BERATURAN YANG MENYAURAKAN PIKIRAN PARA PENYELAM. VISUALISASI DI PANGGUNG TERKONDISI DENGAN SENDIRINYA, SESUAI EMOSI SUARA-SUARA.<br />
PENYELAM I : Sesiapa telah mengasah waktu di sini. Begitu kilat. Tahun 1974 kami lahir. Ketika rencana penghilangan itu dirancang kami genap 5 tahun. September menggigil. Di Tanjuang Pauah akan dibangun dam skala kecil dalam rangka memanfaatkan potensi Batang Maek anak Sungai Kampar Kanan. Janji-janji bertaburan, seperti bunga perkabungan. Wanginya meluluhkan sendi. Orang-orang tersentak, merangkul sedih ke dada masing-masing. </p>
	<p>004<br />
PLASTIK YANG JUGA BERFUNGSI SEBAGAI LAYAR TERBUKA. HAMPARAN PARASUT JUGA TERKUAK. DIIRINGI MUSIK, SUASANA PANGGUNG BERALIH KE SEBUAH RUANG MAKAN DENGAN MEJA SEDERHANA. ADA IBU, BAPAK DAN SEORANG ANAK.<br />
BAPAK	: Pertemuan Kampar Kanan dengan Batang Maek menjadi pusat pembicaraan para pemburu proyek. Tiba-tiba saja, tanah dan air di sini sangat menggiurkan. Kata mereka, Kampar Kanan bisa menghasilkan 233 MW; Kampar Kiri, 178 MW; Rokan Kanan, 56 MW; Rokan Kiri 132 MW; dan Kuantan, 350 MW. Wah!<br />
IBU	: Untuk apa, Pak?<br />
BAPAK	: Untuk membuat pembangikit listrik, Bu. mereka menyebutkan bahwa jika proyek itu berhasil, jutaan warga yang masih kekurangan listrik akan sangat terbantu. Kita diminta mendukung misi ini.<br />
IBU	: Ibu kurang paham pembicaraan Bapak?<br />
BAPAK	: Bu, para pemburu proyek itu membawa dua usulan. Pertama, membangun bendungan sebanyak 2 buah yang berlokasi di Tanjuang Pauah dan Koto Panjang. Kedua, bendungan tunggal berskala besar di lokasi Koto Panjang. Kalau bapak lebih setuju bendungan yang besar. Lebih besar lebih baik?<br />
IBU	: Kau tertarik, Bapak? </p>
	<p>005<br />
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU DENGAN SEORANG PENYELAM TERPAKU DI CABANG BATANG KAYU.<br />
PENYELAM II : Kami lupa, berapa usia kami ketika rencana demi rencana terus berjatuhan. Pemburu proyek luar dan dalam negeri bahu membahu membentuk tim untuk kelangsungan rencana. Pilihan jatuh pada Bendungan tunggal di Koto Panjang yang berkapasitas 114 MW. Rancangan dimulai. Tinggi bendungan 58 meter. Yang akan tenggelam 2.6444 rumah; 8.989 hektar kebun-sawah; jalan negara 25,3 km dan jalan propinsi 27,2 km.<br />
PENYELAM I: Bendungan alternatif yang semula dibangun bertahap: bendungan I lokasi Tanjuang Pauah, kapasitas 23 MW, tinggi bendungan 38 meter dan bendungan II lokasi di Koto Panjang, kapasitas 41 MW, tinggi bendungan 30,5 meter tidak jadi dibangun. Dari studi kelayakan, kedua bendungan ini tidak menjanjikan, tidak besar, hanya akan menenggelamkan rumah sebanyak 390 buah, 1.860 hektar sawah dan kebun dan jalan negara sepanjang 16 meter.<br />
PENYELAM II: Kapasitas listrik yang dihasilkan bendungan tunggal berskala besar dapat dibangun dengan biaya lebih murah. Ini jelas menarik dibanding dengan dua bendungan bertahap.</p>
	<p>006<br />
DARI BAWAH PARASUT ORANG-ORANG MENGEKSPLORASI GERAK SEDEMIKIAN RUPA. BERBAGAI NARASI BERHIMPITAN. PADA LATAR PANGGUNG MELINTAS-LINTAS ANEKA GAMBAR. ADA EKSODUS. DEMONSTRASI. TAWURAN ANTARWARGA. SEORANG PEMIMPIN SEDANG BERPIDATO. FADE OUT. MUNCUL SUARA<br />
PENYELAM III : Kakek-kakek, paman-paman, dan bapak-bapak kami yang terpandang mulai bergairah menggalang massa dengan jargon kebulatan tekad.<br />
PENYELAM I: Di beberapa sekolah dikampanyekan pelaksanaan proyek yang dilakukan atas nama Masyarakat XIII Koto Kampar yang siap berkorban untuk mewujudkan pembangunan Dam Koto Panjang.<br />
PENYELAM II: Orang-orang proyek siap memberi bantuan sebesar 1,152  Miliar Yen untuk Engineering Service.<br />
PENYELAM III: Kami terdesak, makin lupa pada usia sendiri.<br />
PENYELAM I: Orang-orang terus sibuk menggalang kesepakatan.<br />
PENYELAM II: Proyek besar di ambang saku-saku.<br />
PENYELAM III: Langkah cepat diambil. Seluruh harta kekayaan penduduk yang bakal tenggelam didaftar. Pohon, rumah, pekarangan, sawah semua dicatat.<br />
PENYELAM II: Penduduk dilarang membangun atau membuka lahan pertanian baru. Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti, puskesmas, pasar atau juga sekolah bahkan jalan sepanjang 35 kilometer di daerah ini tidak lagi diperhatikan.<br />
PENYELAM III: Semangat mereka menyala-nyala. Kebulatan tekad digelar di mana-mana. Di desa Pulau Godang, kebulatan tekad dibacakan orang-orang besar kami. Acara diawali dengan penyerahan sebilah keris dan miniatur perahu.<br />
PENYELAM I: Kampung kami diserahterimakan dengan syarat pemindahan harus meliputi seluruh masyarakat yang ada di suatu desa dan di tempatkan di sekitar pinggiran danau. Kemudian, penempatan kembali harus secara kolektif mutlak dilakukan agar masyarakat dapat mempertahankan adat dan tradisi mereka. Pemberian SK pembebasan tanah di Pangkalan Koto Baru, Tanjuang Pauah, Tanjuang Bolik telah dilangsungkan. Tak hiraukan desakan untuk menghentikan proyek Koto Panjang dari mereka yang peduli.<br />
PENYELAM II: Exchance Note (EN) tetap ditanda tangani atas proyek bernama “Koto Panjang Hydroelectric Power and Asosiated Transmision Line Project” dengan dana awal 12,5 Milyar Yen. </p>
	<p>007<br />
LAYAR PLASTIK DAN HAMPARAN PARASUT KEMBALI TERBUKA. SUASANA PANGGUNG BERALIH KE SEBUAH HALAMAN. IBU DAN SEORANG ANAK MENGGIGIL. SUARA-SUARA BERDESAKAN.<br />
ANAK	: Ganti rugi tidak bermasalah.<br />
IBU	: Kita diambang kecerahan. Industri hilir bisa lebih maju.<br />
ANAK	: Sawit dan karet kita hancur, Mak!<br />
IBU	: Jadi, bagaimanapun pembangunan harus diteruskan.<br />
DISELINGI PENYELAM III<br />
PENYELAM III : Gajah-gajah yang bermukim di sini juga harus pindah!<br />
ANAK	: Kita berkubur di sini saja.<br />
IBU	: Tidak, kamu harus terus sekolah.<br />
ANAK:	: Di mana?<br />
IBU	: Bumi tak seluas pandang, Nak. ditutup selebar kuku, dibuka seluas alam. Jangan picingkan matamu, Nak!<br />
ANAK	: Ibu, jangan sakit, Ibu!<br />
DISELINGI PENYELAM I<br />
PENYELAM I: Tingkat kehidupan KK yang kena dampak proyek tingkat kehidupannya harus sama atau lebih baik dari kehidupannya di tempat lama. Ayah, kau juga tergiur? Kau biarkan kami terhuyung-huyung begini? Persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus dilakukan dengan adil dan merata!<br />
IBU	: Jangan picingkan matamu, Nak.<br />
ANAK	: Ibu! Kenapa tanganmu dingin?<br />
IBU	: Selamat hidup, Nak. </p>
	<p>008<br />
LATAR PANGGUNG MENAMPILKAN PEMBACA BERITA<br />
BERITA: 	Persetujuan pemindahan dan ganti rugi diintimidasi. Lima orang utusan yang mewakili 4.885 KK warga Koto Kampar melakukan aksi ke Jakarta menyampaikan tuntutan mereka tentang rendahnya harga ganti rugi. Tuntutan itu disampaikan dengan mendatangi DPR RI. 2 Sepetember 1991, Kedubes Jepang, 3 Sepetember 1991 ke kantor OECF Jakarta 4 September 1991 Aksi ke Depdagri Kamis, 5 September 1991. Action Plan diserahkan. Penampungan dirancang di Koto Ronah dan Muara Takus. Rencana pelaksanaan dikonfirmasi. Dana tahap II  sebesar 17,525 Miliar Yen diturunkan. Syarat-syarat pemindahan yang ditetapkan telah dipenuhi. Kontrak perjanjian secara resmi dibuat. Masyarakat Pulau Godang mulai dipindahkan ke lokasi pemukiman baru di Silam Koto Ronah di bawah ayoman Bataliyon-Bataliyon yang santun dan bijak.</p>
	<p>009<br />
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU. PARA PENYELAM BERKELIARAN SEDEMIKIAN RUPA.<br />
PENYELAM II: Januari yang lain. Kami terjaga. Usia kami 19 tahun, ternyata. Tapi, Ibu, kami sudah tidak di sana lagi. Kabarnya, setelah kami pergi ke rantau-rantau pelarian, pembangunan mulai dilaksanakan. Perusahaan lokal tentu dapat bagian. 401 KK di Tanjuang Bolik dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data menyusul 312 KK atau 1.152 jiwa dari Tanjuang Pauah.  Sementara warga yang mencintai tanahnya masih terus merengek menyampaikan tuntutan ganti rugi yang belum dibayar. </p>
	<p>010<br />
KEMBALI KE PEMBACA BERITA. BARANGKALI DI SEBUAH RUANG KELUARGA. BEBERAPA ANGGOTA KELUARGA SEDANG MENONTON SIARAN TV, SAMBIL MENIKMATI PENGANAN.<br />
BERITA: 	244 KK dari Muaro Takuih dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) I di Selatan Muaro Takuih. 447 KK dari Muaro Maek  dipindahkan Satuan Pemukiman (SP) Blok X/G di daerah Sibuak. 599 KK dari Koto Tuo dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II Selatan Muaro Takuih. 38 KK atau 387 jiwa dari Tanjuang Pauah kembali dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data.  Menyusul pula 49 KK Tanjuang Bolik yang dipindahkan ke Satuan Pemukiman (SP) II di Rimbo Data. Masyarakat Tanjuang Alai sebanyak 313 KK atau sebanyak 1600 jiwa dipindahkan ke Unit Pemukiman Penduduk (UPP) Ranah Koto Talago. Masyarakat Lubuak Aguang sebanyak 220 KK atau 1082 jiwa dipindahkan ke Unit Pemukiman Penduduk (UPP) Ranah Sungkai Koto Tangah.<br />
KEMBALI KE PENYELAM:<br />
PENYELAM I: Itulah yang kami dengar. Hiruk-pikuk yang tak berkesudahan. Terus berhimpitan. Di telinga kami terdengar kusut. Di telinga lain mungkin berubah jadi lantunan dari not-not balok di lembaran partitur yang mahal.<br />
PENYELAM III: Yang ingin merengek, merengeklah. Meratap, merataplah. Bernyanyi, bernyanyilah. Semua mesti dilangsungkan atas nama kemajuan, kemakmuraan orang banyak.<br />
PENYELAM II: Silakan mengadukan kasus ganti rugi ke Komnas Ham. Anda berhak didampingi pengacara. Katakan: bendungan selesai dibangun dan penggenangan percobaan dilakukan, tapi kami kehilangan tanah air kami yang sebenarnya.<br />
KE PEMBACA BERITA<br />
BERITA: 	Penggenangan secara resmi, penekanan tombol penurunan pintu-pintu sekat air dam digelar.<br />
KE PENYELAM<br />
PENYELAM I: Sirene di hati kami tak kalah lengkingnya. Kami tak ingin diberi kampung instan, tanpa sejarah, tanpa kenangan.<br />
SEMAKIN HIRUK DENGAN SUARA PARA DEMOSTRAN<br />
PENYELAM III: Bapak-bapak BPN, kami bukan tak suka dimukimkan di Rimbo Data, bukan tak mengakui legalitas sertifikat atas lahan kebun karet yang Bapak keluarkan.<br />
PENYELAM I: Kami hanya tidak ingin terkapar di ketidakmengertian.<br />
PENYELAM II: Kami tak ingin terjerat di kesemrautan. Katakan pula: penolakan kami bukan tanpa alasan. Lihatlah, Pangkalan banjir besar. Padahal berada di luar areal proyek.<br />
PENYELAM III: Anak sungai yang selama ini mereka banggakan, seperti Batang Mangilang, Batang Samo dan Batang Maek tak ramah lagi. Ngamuk. </p>
	<p>011<br />
VISUALISASI YANG MENGEKSPLORASI PARASUT MENAMPILKAN ORANG-ORANG DI RUANG SEMINAR, SALING BERBINCANG<br />
ORANG I	: Biasanya, meskipun hujan turun berhari-hari, tidak pernah terjadi banjir besar. Karena, wilayah ini memiliki siklus banjir alami yakni satu kali dalam 25 tahun. Tapi sekarang, banjir besar susul menyusul. Sampai-sampai menyebabkan terputusnya transportasi Sumbar–Riau.<br />
ORANG II	: Ketinggian muka air disaat banjir tidak wajar lagi. Capaian ketinggian air sudah sampai ke loteng rumah  penduduk bahkan Mapolsek dan Puskesmas Pangkalan ikut ditenggelamkan.<br />
DISELINGI KE PENYELAM<br />
PENYELAM II: Mengapa hanya mendiskusikannya di ruang-ruang seminar lalu sama-sama sepakat mengatakan bahwa penyebab banjir besar tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adanya dam Koto Panjang?<br />
KE RUANG SEMINAR<br />
ORANG III	: Sebelum adanya PLTA Koto Panjang, air sungai di wilayah ini mengalir sampai jauh sampai ke Muaro Maek. Sekarang, sampai di Tanjuang Bolik aliran air sungai menjadi tersendat, sehingga air sungai Batang Mangilang, Batang Samo dan Batang Maek menjadi naik.<br />
ORANG I	: Di samping itu, terlihat bahwa, ketika hari hujan, air sungai cepat naik, turunnya sangat lambat. Bagi penduduk Pangkalan yang berjumlah 22.000 jiwa, banjir yang berkali-kali melanda daerah mereka menstimulasi penyakit orang modern: stress dan traumatik.  Tidak hanya itu, kenaikan elevasi air mencapai 82 meter juga berpengaruh terhadap pemukiman baru rakyat Koto Tuo.<br />
KE PENYELAM<br />
PENYELAM I: Oleh sebab itukah kita meramaikan ruang seminar? Bukankah pemerintah kita juga menyediakan pengadilan? (Saudaraku, pertanyaan-pertanyaan  ini pun tertimbun waktu).<br />
KE PEMBACA BERITA<br />
BERITA:  	20 Mei 2000. Masyarakat Tanjuang Pauah sebanyak 67 KK dari 180 KK yang ganti ruginya belum tuntas, mengajukan gugatan ke PN Tanjung Pati dengan kuasa hukum KBH-YPBHI Bukittinggi. Perkara ini terdaftar dengan Nomor:03/Pdt.G/2000/PN.TJP,</p>
	<p>012<br />
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU DENGAN BEBERAPA PENYELAM TERPAKU DI CECABANG BATANG KAYU. SEMENTARA PARA TURIS BAHARI DAN PENZIARAH YANG LAIN SESEKALI MELINTAS DAN BERPENCAR MENUJU TUJUAN MASING-MASING. MASING-MASING MEMAKAI PAKAIAN SELAM LENGKAP.<br />
PENYELAM II: Daun-daun luluh, waktu mencair.<br />
PENYELAM III: itu adalah daun dari sebatang manggis yang dulu tumbuh subur di tikungan menjelang Masjid.<br />
PENYELAM I: Tetua kita menyebutnya Manggis Sumatra yang konon kualitasnya sangat dikagumi tentara Belanda kala musim perang dulu. </p>
	<p>013<br />
VISUALISASI DI PANGGUNG SEMAKIN RIUH DAN MENYIMBOLKAN BEBERAPA PERSOALAN SEPUTAR PERSOALAN PEMBANGUNAN KOTA; AMBISI-AMSBISI; TIPU MUSLIHAT; KEBAHAGIAAN DI SATU PIHAK, KEPEDIHAN DI PIHAK LAIN, DAN SETERUSNYA.<br />
PENYELAM III: Kau lihatkah? Dua kelok menjelang batang manggis Sumatera itu membangkai gedung Sekolah Dasar tempat dulu bocah-bocah bercita-cita tinggi menggilai pensil dan buku-buku. Bocah-bocah itu kita.<br />
PENYELAM II: Ya. Kini tak beratap lagi.  Lihatlah pula, sekitar 500 meter lagi setelah Masjid ada sebatang kelapa menjulang tinggi di pekarangan rumah beratap daun rumbia. Kita akan ke sana bukan? Di sisi batang kelapa itu, ibu kita berkubur.<br />
PENYELAM I: Sudah tak terhitung waktu yang melesat sampai kita didamparkan di ruang berlumut ini.<br />
PENYELAM III: Lumut kenangan.<br />
PENYELAM II: Lumut sunyi.<br />
PENYELAM I: Lumut yang menyakitkan. </p>
	<p>014<br />
PARA PENYELAM MENANGGALKAN MASKER AIR DI MULUT MEREKA KARENA AKU TIDAK LELUASA MENGATUR NAFAS MELALUI SLANG YANG DISAMBUNGKAN KE TABUNG OKSIGEN DI PUNGGUNG MEREKA. MEREKA SEPERTI ANAK SIAMANG YANG BELAJAR BERAYUN. KAKU. SEMENTARA GELEMBUNG-GELEMBUNG AIR BEGITU MENGGANGGU PANDANGAN. MEREKA MELINGKAR DAN SESEORANG TAMPIL SEBAGAI KOMANDO LINGKARAN<br />
PENYELAM II: Ibu, Segalanya terbenam. Rumah kita, begitu juga taman bunga di halamannya, melepuh! Bukan karena api. Bukan.<br />
PENYELAM I: Tapi rencana besar itu telah mengempang sungai-sungai menjadi danau.<br />
PENYELAM III: Adalah dirimu, perempuan tangguh yang teduh, yang sering mengingatkan aku pada dunia di seberang jendela: hamparan luas yang menunggu kakiku.<br />
PENYELAM I: Jakarta, kisahmu suatu kali, Bak pusat jala. Ikan-ikan yang terjaring berdesakan di sana!<br />
PENYELAM II: Kami tertarik, Ibu. Cita-cita, dengan segala bentuknya bertubi-tubi menimpa jiwa, menggunung di rongga dada.  Menyimak mimpi-mimpimu, kami diam-diam membayangkan diri jadi pangeran, mungkin semisal Hang Tuah, atau Tan Malaka: sosok-sosok yang tak pernah diam. Kami ingin  jadi sesuatu untuk melipur rindumu, Ibu.<br />
PENYELAM I: “Keinginan,” tuturmu pula. “Letus-letus yang lara. Dengarlah. Sesiapa telah berkurun-kurun menyalakan api di nadimu. Segala yang terbakar mengabu di tumit para pesinggah. Mereka dan juga kita selalu ingin ditemani membakar sobekan hari. Keinginan: nyala pemerah mata belati. Sesiapa yang lain terus menakik darahmu, memahat jantungmu tak henti-henti. Lalu, apa lagi yang kau tunggu. Maukah kau padam sendiri? Ah, berburulah, Anak Jantanku!”<br />
PENYELAM III: Perburuan itu, Ibu, digelar di sebuah padang. Di sana, orang-orang merunut belukar dengan kaki, pisau, tombak, senapan, dan anjing masing-masing. Mungkin babi, kijang, rusa, atau apa saja yang bernasib malang ketakutan sekali.<br />
PENYELAM II: Anak-anak jantanmu berkubang di antara para pemburu itu, Ibu. Hari-hari yang meluncur di ketiak waktu melingkar dalam debar harapan akan bangkai buruan yang memerah dibabat peluru, ditebas pisau, ditikam tombak, atau diterkam anjing-anjing.<br />
PENYELAM I: Begitulah. Para pemburu tak boleh berkenalan dengan kata pulang sebelum buruan menggelepar.<br />
PENYELAM III: Bila saat pulang tiba, saat menjemput kenangan, sejenak orang-orang melepas belenggu lelah. Sunyi yang melilit diri. Anak-anak jantanmu disergap rindu yang alang-kepalang. Ranah Koto Panjang, rumah kita, ngangkang di udara. Sebuah layar tak berhingga menampilkannya. Bukit berbaris di sekeliling perkampungan. Sungai-sungai kecil berjabat tangan di perut rawa.<br />
PENYELAM I: Kami rindu burung-burung pemakan buah kayu yang sangat menyukai hutan kita. Burung-burung yang selalu bernyanyi meski pagi tetap dingin. Dengarlah cericitnya. Kami sangat mencintainya, Ibu. Bukan hanya karna tangis pertama kammi menggema di sana, bukan. Sejumlah rencana telah kami rancang untuk kampung yang terbenam ini, Ibu.<br />
PENYELAM II: Kepulangan kami, kepulangan yang sakit, Ibu. Layar tak berhingga itu, entah mengapa memajang tubuh ringkih ayah. Ia seperti senja bagi langit kita. Mengharapkannya, kita seperti elang lapar. Nyalang. Kita rentang-rentangkan sayap, bukan hendak menerkam. Tetapi haus pelukan. Tiba-tiba saja, semburat merah muncrat di ufuk yang jauh. Langit kita tak lagi biru. Walaupun kita masih dijatahi matahari esok, tapi ia bergulir di langit yang lain. Duh, Ibu, hari-hari kita terseok di sulur-sulur cahaya. Ayah pergi berlalu dan tak menoleh selayang jua. Lelaki yang membuat rahimmu mengandungku itu pergi ke rumah lain. Menciptakan perahu sendiri. Di laut yang terpisah ia seolah berujar: “Mari berlayar di gelombang masing-masing, dengan perahu masing-masing, dayung masing-masing, lentera masing-masing, membenam di kedalaman dan kedangkalan masing-masing. Pantaiku tetap untuk kalian, mantan istri dan anakku!”<br />
PENYELAM III: Kita tetap ada di pelayarannya, Ibu. Tapi begitu tersudut di tepian. Tak apa-apa, seperti hiburmu juga: “Tak semua laki-laki berhasil jadi ranting bambu yang menjunjung gagang buncis di pendaman sampai ke panen. Sebagian gagal. Ia hanya sempat jadi pimping yang rapuh lalu tergolek dilalap humus.<br />
PENYELAM I: Kisah tentang ayah, Ibu, selain sakit juga panjang. Menjela-jela tak berketentuan. Tapi, bagaimanapun, kami tetap akan pulang menjengukmu. Menggendong bangkai buruan yang kami tabung sejak berkenalan dengan hidup yang batu, juga do’a-do’a.<br />
PENYELAM II: Meski hanya sejenak, bersimpuh dengan segenggam bunga di tanah merah pusaramu adalah pelerai sakit kami. Anak-anak jantanmu ini sangat percaya, Tuhan telah menganugrahi ciptaan-Nya bermilyaran kendaraan malaikat yang siap mengangkut do’a para anak untuk ibu-ibu mereka. Jangan takut, Ibu.<br />
PENYELAM III: Kami selalu sedia mengirim sekepal dua kepal nasi untuk laparmu, seteguk air untuk hausmu, lapang untuk sempitmu, sejuk untuk panasmu, hangat untuk dinginmu.<br />
PENYELAM I: Kami selalu menyeru-Nya: retas segala aral, segala semak, segala duri, kerikil yang menghunjam di jalan menuju sorga.<br />
MEREKA TERTUNDUK KHUSUK DALAM MUNAJAT. SUASANA </p>
	<p>015<br />
PANGGUNG PERLAHAN BERALIH KE PEMBACA BERITA.<br />
PEMBACA BERITA: Rekan Warta, silakan laporan Anda!<br />
TAMPIL SEORANG REPORTER SEDANG MEWAWANCARAI PENDUDUK<br />
REPORTER: Penduduk di pemukiman Rimbo Datar kini dihantui bencana kekeringan. Salah seorang penduduk yang kami temui menyatakan,<br />
PENDUDUK: Kampung kami terbenam. Di daratan kami kekeringan. Bisa Anda lihat sendiri, Kurang lebih 15 tahun tiang-tiang listrik itu kuyup dalam lumpur, tetap tegak lurus menunjuk langit sekalipun tak ada lagi cahaya yang akan dikirim ke rumah-rumah yang membangkai. Di daratan sudah ada yang menggantikan. Terutama di hulu, bekas perkampungan Tanjuang Bolik, tiang-tiang itu muncul ke permukaan. Memprihatinkan. Apalagi belakangan ini, bencana asap susul-menyusul. Kekeringan sudah melanda kampung kami ini selama tiga minggu.<br />
REPORTER: Akibat ketinggian air yang mendekati darurat itu, dari tiga turbin yang ada di PLTA Koto Panjang, hanya satu turbin saja yang dapat dioperasikan karena tekanan air yang ada tidak kuat menggerakkan turbin hingga mencapai kapasitas maksimalnya sebesar 38 Mega Watt (MW) per-turbinnya. Meski masih bisa digerakkan, namun turbin-turbin itu tidak bisa mencapai kapasitas produksi maksimalnya. Saat ini, turbin-turbin itu hanya mampu menghasilkan daya sebesar 32-35 MW saja, padahal kapasitas terpasangnya mencapai 38 MW. Reporter anda melaporkan langsung dari lokasi. Sekarang kita kembali ke studio. Rekan Rita. </p>
	<p>016<br />
PERLAHAN KE PENYELAM<br />
PENYELAM II: Bagaimana lagi, bubur sudah matang. Kenapa mengidam nasi? PENYELAM III: Lapangan bola sudah jadi rawa.<br />
PENYELAM I: Berbidang kebun karet membusuk. Sawit mati muda.<br />
PENYELAM  III: Berhektar sawah membentang sia-sia.<br />
PENYELAM II: Demi kemajuan, tak ada padi yang bernas setangkai. Seperti yang sering kau geleng-gelengkan, Ibu.<br />
PENYELAM  I: Kemajuan itu pula yang menggoda anak jantanmu ini, seperti selekuk gelombang yang berharap-harap pada radio: Suarakan sakit kami. Beri hati kami bangku. Angkutlah! Biar ia sempat pula muncul sebagai lekukan di pucuk-pucuk signal dan ketakmenentuan ini. Oi, peradaban makin licin, makin tak terjinakkan. Telah kami gembalakan hati tipis ini ke sejumlah padang, tapi ranjau ilalang itu, ketajamannya menciutkan pori-pori.<br />
PENYELAM III: Pada kesempatan lain, kami menjelma aksara yang menghiba dalam koran: Raba dan beritakan rindu kami. Beri cita-cita kami tali. Terlalu lama baginya menggelinding dari kemiringan ke kemiringan, ke dataran, memantul ke awang, dan berdentum di ketidakmengertian, ketinggian. Oi, Koran! Kisahkan tangan ibu kami yang mengeras di hulu cangkul. Bertahun-tahun ia tampar sekawanan humus dan lumpur-lumpur bumi ini. Di gulungan tali kerbau, di serajut rumput, di onggokan tahi kambing, nasib berpilin-pilin tak terkemasi.  Jika senja meretas langit, burung-burung pulang ke sarang, ibu terseok di pelipis jalan, seperti kayu bakar. Tak boleh bertunas, tak boleh berdaun, tidak boleh basah. Lalu, siapa saja boleh jadi api. Siapa saja boleh jadi tungku. Siapa saja boleh jadi periuk, jadi kuali. Siapa saja boleh jadi kangkung, jadi daun ubi. Siapa saja boleh jadi garam, jadi daun kunyit, jadi air yang mendidihkan perjalanan.<br />
PENYELAM II:  Dalam televisi kami merupa jadi warna-warna kabur: rupakan luka kami. Rautlah. Oi, Televisi, berapa kilometer lagi yang harus kami tempuh rindu hingga ziarah kami sampai ke dekapan ibu? Keterasingan ini amat panjang. Kami  ingin keluar dari lingkaran kekalahan ini.”<br />
KE PEMBACA BERITA<br />
BERITA: 	Selain itu, kabar tentang krisis listrik di kawasan bagian barat negri ini semakin buruk saja. Pihak Perlistrikan kemarin mewartakan, ketinggian air di bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang, telah mendekati kondisi darurat. Itu artinya PLTA Koto Panjang tidak bisa diharapkan akan mampu menyediakan daya maksimalnya dalam waktu dekat.  </p>
	<p>017<br />
LAYAR PLASTIK DAN BENTANGAN PARASUT TERTUTUP. SUASANA KEMBALI KE DASAR DANAU. PARA PENYELAM BERKELIARAN SEDEMIKIAN RUPA. GELEMBUNG AIR YANG MENIMBULKAN SUARA-SUARA KHAS SEMAKIN BANYAK. DIIRINGI MUSIK, TERDENGAR ANAK-ANAK REMAJA MEMBACA PUISI<br />
PUISI	: selain dedaun melapuk terasing dari tampuk<br />
hanya ada sisa pembakaran saja<br />
musim menyilih hari tanpa bunga<br />
di sini, di sehamparan negeri yang merabuk hasrat<br />
sampai merimba belantara<br />
kemana kematian ini mesti di muarakan<br />
setelah bulan di seberang malaka yang jauh<br />
menyisipkan bius di balik cahaya kikirnya<br />
bangunlah, ibu<br />
apalagi yang mesti ditulis dari mimpi yang kehilangan aksara,<br />
jauh dari hikayatmu puisiku tumbuh meliar<br />
dan menjadi keparat begini<br />
memburu kata ke setiap sudut kamus paling belakang<br />
tanpa catatan kaki merobeknya  jadi bungkusan sunyi<br />
dan ketika angin khatulistiwa menutup catatan<br />
dari hulu batang rokan, makna yang lelah di seterui kini lusuh<br />
hanyut menghilir di bawah balak-balak curian<br />
tapi tak sengiang pun risau menyahuti igaunya<br />
sampai ia membisu di bibir anak-anak laut<br />
seperti jemariku begitu sibuk memetik gambus perburuan<br />
meski tak bisa kulengkapkan talinya (memang tak pernah bisa<br />
kulengkapkan)<br />
para perimba pun tak lepas mencicil keberuntungan<br />
mengikis lunau di kaki<br />
“cukup waktunya bagi malang melintang di dada yang asma<br />
 tak mungkin lagi kami jadi lebai!”<br />
tapi aku tengah merindu ibu<br />
di manakah ketipung menggema meningkahi zapin<br />
di antara sungai-sungai yang mengeruh bersebab umpatan<br />
di siakkah?<br />
di indragiri?<br />
atau kampar?<br />
bangunlah ibu kegembiraan ini<br />
tak lagi manis<br />
irama yang mengetuk dari segala muara begitu bawel<br />
dan nyinyir, mengirimi aroma garam<br />
tapi perempuan tak lagi seranji sehikayat<br />
mereka kehilangan belanga di dapur<br />
ikan-ikan memulangkan sirip dan insang pada serpih terumbu<br />
atau akar-akar bakau nan lengang<br />
di sini, disehamparan negri<br />
para pendongeng membujurkan garis jauh ke barat<br />
melangkahi punggung bukit barisan jadi diam<br />
tanpa bunga musim menyilih dengan tangkai serupa<br />
setiap hari anak-anak mencabuti duri di tubuhnya<br />
dengan telinga menyaga merah bekas jeweran guru<br />
betapapun retak mereka dipaksa merenggut gading dari gajah<br />
sesekali ada yang mencari rasa kelidah sejarah<br />
seperti lelaki mengincar tubuh pacar belianya<br />
membisikkan rayuan sampai ke ranjang<br />
tapi kakinya terpancang cuma pada sampiran<br />
segala isi meruah tumpah bersama ludah<br />
di sepanjang ladang-ladang minyak<br />
mereka tak pernah sampai ke pelaminan<br />
tak ada pantun terselesaikan sampai ke nyanyian<br />
tapi aku makin merindu ibu<br />
bangunlah ibu<br />
penyesalan telah memiangi jasad sampai ke sunsum </p>
	<p>FADE OUT<br />
S E L E S A I<br />
Payakumbuh-Padang-Pekanbaru, 2004-2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zelfeniwimra.blogsome.com/2008/04/21/ziarah-tabung-tabung-puisi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
